Gerakan 1000 Buku Bacaan untuk Anak Jalanan

Buku adalah gerbang ilmu pengetahuan, begitulah sebuah skema mengemukakan betapa pentingnya keberadaan buku.

Kegiatan Bakti Sosial KOPAJA

Bakti sosial sekaligus sosialisasi perdana kegiatan KOPAJA.

Belajar Gerakan Sholat

Menanamkan kepada anak-anak pentingnya menegakkan sholat sejak dini.

Hasil Karya Anak-anak

Membebaskan ekspresi dan kreasi anak-anak, dan mengarahkannya kepada hal yang positif.

Pesantren Kilat Anak Jalan

Bersama dalam canda dan tawa, mengisi ruhiyah anak-anak dalam kehangatan Ramadhan.

Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Februari 2014

Kisah anak bermata telaga di Lapak Pemuda "Kakinya kenapa Ferry?"


Di pagi hari yang agak mendung, kami berlima memulai mengajar. Kak Reni, Kak Winda, kak Arum, Kak Dina, Abang Ashep, dan Abang Azzam memberikan materi seperti menggambar, berhitung matematika, belajar membaca, juga ada beberapa permaianan dari kakak-kakaknya. semua anak-anak berantusias mengikuti jalannya pengajaran. 

Ternyata mengajar anak-anak  itu tidak semudah apa yang kami bayangkan. Bagaimana tidak, lingkungan juga pergaulan anak-anak yang tidak terkontrol, rentan dengan kenakalan. Yah, mau bagaimana lagi, itulah tugas kami para pejuang KOPAJA (Cie, cie...) untuk mengajarkan mereka tatakrama, adab dalam beragama, juga sosialnya. Moga mereka menjadi anak-anak terbaik di masa yang akan datang. Aamiin.

Pengajaran masih berlangsung, Bagas (salahsatu anak didik) tidak mau diam, bawaannya canda aja. Apalagi si Agil yang Sok diam tapi gak mau diam, loh? ya gitu deh, bertingkah ingin mencari perhatian kakak-kakaknya, hehe. 

Tetapi ada satu orang anak, dia pendiam dan baik hati. anaknya kalem, juga terlihat cerdas. dialah Verry (mohon maaf penulis lupa apa namanya pake F atau V) dengan rambut agak kemerahan, dan mempunyai wajah polos sekali, duh gemesnya. Kalau digambarkan seperti sosok kucing Puss in Boot, dengan sorotan matanya aja sudah mampu meluluhkan hati siapa saja yang memandangnya. ^_^. 

Setiap memberikan materi dari kakak abangnya, Verry selalu menyimak, duduk manis di pojokkan, seakan tidak ingin diganggu, kalau ada yang menganggu siap mengeluarkan jurus (biasa aja kali). Namun ada pengajar yang melihat keanehan dari kakinya Verry. Sebuah lilitan lakban kuning melilit jempol kakinya. Mungkin ketika itu dia lagi iseng melilitkan lakban di jempol kakinya. tapi setelah diteliti, diterawang, diraba, dibejek-bejek, terus dibeliin es krim deh. Maaf gak nyambung. 

Pas ditanyakan, ternyata kakinya cantengan, kukunya hampir lepas, dan yang lebih parahnya lagi abang es krimnya tidak jualan. (Maaf gak nyambung lagi). Karena sudah lama cantengan, kakinya mengalami inveksi berat. Nanah yang menguning pekat mengganjal disekitar kukunya (Jangan dibayangkan kalau baca sambil makan, nanti haus, maaf makin gak nyambung).

Seorang dari kami membukakan lakban tersebut, dan menggantikannya dengan Hansaplas (merek disamarkan). tapi itu tidak cukup membuat cantengannya lekas sembuh, khawatir makin parah. Tidak begitu lama, datang dua orang Ibu-ibu keren. Yang satu bernama Ibu Wiwit, dan yang kedua Ibu Lis. Mereka berniat membantu untuk mengajar, dan lain-lain.

Kakak dan abangnya mulai berkenalan dengan kedua sosok Ibu-ibu yang energik itu, dan menerangkan apa saja yang dilakukan KOPAJA, juga bercerita tentang anak-anak kedua lapak. Setelah berbincang 'panjang X lebar', kami akhirnya berphoto bersama dengan anak-anak termasuk  Verry. seperti belum pernah diphoto (kayaknya), anak-anak sudah berkumpul dengan wajah senyum termanisnya.

"Yang belum sikat gigi senyum aja, dan yang sudah sikat gigi silahkan mangap lebar-lebar" Canda salah satu abangnya. (Siapa tuh? ada deh, he..) langsung para manyun, huuuuuu.

Beberapa kakak berinsiatif ingin membawa Verry ke Puskesmas atau rumah sakit terdekat. Alhamdulillahnya, ternyata Ibu-Ibu ini membawa mobil. Kamipun menceritakan kondisi Verry. Dengan semangat pemuda (sesuai dengan nama lapaknya) kami semua langung menuju parkian mobil.

Tau tidak, ternyata Verry baru naik mobil, loh. beruntung sekali kau nak, padahal teman-temanmu pasti banyak yang iri melihatmu naik mobil lumayan mewah tersebut.

Singkat kata, Kami mencari puskesmas, atau rumah sakit.
"Mi, (panggilan untuk Ibu Wiwit, 'Umi') itu ada dokter klinik, coba kesitu aja." Sambil ditunjuk, mobil bergerak ke sana. Eh, eh, eh... ternyata Dokter kandungan. (apa ada yang hamil?). 

Mobil menyatroni satu-satu klinik dokter, yang ada Dokter kandungan, dokter gigi, juga dokter bersalin. (Hayo pilih yang mana??, :))

Kami akhirnya menemukan Rumah Sakit Rawamangun.Verry langsung didaftarkan. Tak begitu lama, Verrypun dipanggil menghadap dokter dengan didampingi Abang dan kakaknya

Dokter: "Sakit apa de?"

Abang: "Ini Dok, kakinya kesandung besi bangunan, itu loh yang buat bangunan" Ya iyalah.

Dokter: : "Oh, coba kakinya dicuci dulu ya. situ di kamar mandi".
              "sudah bersih? sudah ya. sekarang naik ke kasur ya, saya buka perbannya. Wah ini harus dicopot kukunya" (nyerocos aja) Sambil membawa jepitan seperti gunting, dan sedikit alqohol
.
Tiba-tiba datang dokter aslinya, ternyata yang menangani kaki Verry itu asistennya.\

Dokter 2: "Mas ini Bapaknya ya?" Alamajang, masih muda dok, masih single, haha.

Abang/Kakak: "Anak ini asuhan kami, Dok. Kami dari Komunitas PEduli Anak Marjinal Jakarta" Promosi dikit.

Setelah berbincang-bincang dan berkonsultasi mengenai keadaan Verry, kami bergegas mengambil obatnya.
Setelah dibayar, Umi Wiwit mengajak kami makan sate. (Rezeki jangan ditolak, pamali) Akhirnya kami pun makan sate bersama. setelah makan, hujanpun turun dengan derasnnya, walau sesaat saja.

Setelah sholat berjama'ah, kami kembali ke lapak juga ada yang langsung pergi karena ada urusan. Mengantar Verry pulang dengan selamat adalah tugas kami, (sesuai amanah dari orangtuannya Verry "Boleh saja dibawa, tapi balikin lagi ya", kurang lebih begitu). 

Setelah menerangkan kepada orangtuanya bagaimana mengatur minum obat Verry, kami semua langsung  pulang diantar oleh Umi Wiwit dan Mbak Lis.

Kami pulang dengan haru, moga lekas sembuh ya, Verry sayang. Kami akan selalu mengajar dengan penuh keikhlasan. Jadilah anak-anak bermata telaga penuh cita-cita.


Senin, 27 Januari 2014

Pelatihan Calon Relawan KOPAJA di Museum Mandiri


"Brum, brum...." Sebuah motor Scoopy terparkir di parkiran belakang Museum Mandiri Jakarta. Dengan terengah-engah orang tersebut segera turun sambil membawa sekardus Air Mineral.

Satpam menghampirinya, "Maaf Pak ada acara apa ya, pagi-pagi begini sudah datang?"

"Acara KOPAJA Pak, Komunitas Peduli Anak Marjinal. pak wagimannya ada g?"

pak Satpam pun menunjuk seseorang yang sedang duduk sambil menyembunyikan wajahnya dengan topi (Gaya banget ya, hehe).

"Öwalah, Pak Wagiman, kirain siapa..."

"Tempat  acara di Audio Visual kan, hayo mas kita ke depan" langsung kedua orang tersebut bergegas ke depan. ternyata belum di buka Museumnya.

sesudah pintu tempat acara dibuka, kemudian segala peralatan dan lampu mulai dinyalakan. Pak Wagiman memberikan instruksi tentang pemakaian layar In Fokus, dll. Jam sudah menunjukkan pukul 08:27 WIB, tiga orang panitia Carel (calon relawan) ternyata baru sampai ke tempat acara.

Sebelum hari acara, malamnya dari pihak panitia mengirim pesan ke semua jajaran pengurus "KOPAJA" sebagai berikut :
"Assalamuálaikum, mengingatkan agenda besok sudah samapai di TKP jam 07:30 WIB, paling telat. atau denda RP. 150,- permenit!!......"

Mantap gak tuh pesan, sedangkan jam sudah menunjukan 07:30 WIB, yang hadir baru empat orang, sisannya kena denda, termasuk bagian Konsumi.

***

Peserta mulai berdatangan, dua orang, hingga beberapa sudah duduk manis menanti mulainya acara carel tersebut. Panitia sibuk menanta meja register, juga kotak makanan. yang sisannya mempersiapkan komputer untuk prsenteasi, dan  menghubungi pembicara yang ternyata belum datang.
Moderator, Abang Khairudin

Jam sudah menunjukan kurang lebih pukul 10:00 WIB, sebuah musibah ternyata terjadi, motor yang dinaikinya ternyata mengalami pecah ban, dan pembicarapun menaiki kereta hingga ke stasiun kota. pembicara itu bernama Pak Slamet Priyono, orangnya gigih. Dengan mengenakan tas punggung beliau berjalan dengan mantapnya. Sang MC acara Abang Ariri yang gak begitu kece juga, memulai acaranya. Di awali dengan pembacaan Ayat Suci Al-Qurán, kemudian sambutan dari ketua pelaksana Abang Bani, dan ketua umum KOPAJA Kak Lisfatul. Tidak begitu lama Moderator pembicara Abang Khairudin sudah siap-siap di panggung memberika arahan kepada peserta, serta membuka segmen pemberian materi. Pak Slametpun dengan semangat memberikan materi juga motivasi.


PEserta Mendengarkan Pembicara (Pak Slamet)

Salahsatu materi yang diberikan adalah tentang "5 KUNCI SUKSES". apa saja 5 kunci sukses itu? beliaupun menjabarkan:
yang pertama adalah tentang SEMANGAT.
Yang kedua adalah tentang AKTIF.
Yang ketiga adalah tentang BUKA HATI.
Yang keempat adalah tentang KONSENTRASI, dan
yang kelima adalah GEMBIRA
PAk Slamet memberikan materi kepada peserta Calon Relawan  KOPAJA

semua peserta menyimak dengan baik, juga senang.
***
Abang bani, Ketua pelaksana juga perwakilan penyerahan piagam kepada Pak Slamet 

Hari sudah siang, sebentar lagi adzan dzuhur. Acara masih berlangsung dengan khidmat. para panitia ada yang mondar-mandir entah apa saja yang dikerjakannya, juga bebrapa masih asik mendengarkan. Beberapa peserta ada yang tertawa mendengarkan materi dari Pak Slamet.

Akhirnya sudah sampai pada penghujung acara, segmen tanya jawab sudah dimulai. hanya dengan dua pertanyaan saja acara materi tersebut sudah usai. Panitia dan peserta bergegas menunaikan sholat; sebagian ada yang jalan-jalan melihat suasana museum mandiri, juga hanya menunggu di dalam ruangan acara. Tidak lupa bagian konsumsi membagikan kotak makanan kepada peserta.


Anak-anak didik KOPAJA mementaskan pertunjukan bernyanyi


Istirahat dimulai dari jam 01:00 an hingga jam setengah 2 an. Kini saatnya pementasan anak-anak dari kebayoran, anak-anak didik KOPAJA yang imut, juga agak bandel, hehe. Tapi tidak membuat mereka jenuh di dalam acara tersebut. berantusias untuk tampil seakan mereka adalah idola yang ditunggu-tunggu (Imajinasi yang berlebihan), dengan diiringi musik oleh Abang Rifki dan Abang Oki.

PEngiring anak-anak, ABang Rifki, dan Abang Oki

Di penghujung acara ada pengenalan Job Descriptions dari masing-masing Divisi, juga mengenalkan semua anggotanya. ditambah dengan tanya jawab.

Semua acara sudah dilaksanakan, Carel sudah resmi menjadi Relawan KOPAJA Jakarta. Acara ditutup dengan doa, dan berphoto-photo bersama. Pergi dan pulang membawa semangat, walau lelah namun ada impian dan harapan dari tiap relawan.

Bersama KOPAJA "Meraih Cita dengan Cinta" :)

Senin, 20 Januari 2014

BAKSOS ANSOS POLITEKNIK NEGERI JAKARTA DI KOPAJA

Komunitas Peduli Anak Marjinal (KOPAJA), Jakarta --- Ahad (19/01) pagi hari seluruh kota Jakarta basah terguyur hujan sedang, mungkin sebagian masyarakat memanfaatkan hari libur ini untuk beristirahat atau berkumpul dengan keluarga. Namun di beberapa sudut kota rekan-rekan pengurus KOPAJA sudah bersiap-siap berangkat mengemban misi untuk mengajar anak-anak di lapak kebayoran. Dua sahabat kembar tapi tidak seakur yang dibayangkan yaitu Abang Ariri dan Abang Riyan sudah bergegas dengan motor matiknya menuju lapak tercinta. Beberapa sahabat juga sudah bergegas berangkat, walau sebagian terhambat oleh derasnya hujan dan banjir yang melanda ibukota belakangan ini, tapi tidak menyurutkan semangat untuk menyusul.

Awan masih mendung pekat, kemungkinan akan hujan besar. Ahad ini agak istimewa, sahabat-sahabat KOPAJA ternyata akan kedatangan tamu dari ANSOS (Anjangsana Sosial) POLITEKNIK Negeri Jakarta yang akan mengadakan Bakti Sosial ke Lapak KOPAJA Kebayoran. mereka berangkat menggunakan Bus KOPAJA dengan jumlah relawan sekisar 25 orang beserta barang-barang baik itu berupa makanan bungkus, speaker, alat musik, dan lainnya. Dengan jas almamater kuningnya, mereka hadir untuk mengajar dan memberikan hiburan kepada anak-anak didik KOPAJA. Di luar mushola walau hanya menyaksikan jalannya acara, pengurus-pengurus KOPAJA merasa senang akan kehadiran para Mahasiswa dari ANSOS Politeknik NJ tersebut. Yang terpenting adalah anak-anak merasa puas, serta mendapatkan manfaat dengan adanya  acara BAKSOS tersebut.

Jam sudah mendekati jam 12 siang, namun awan tetap mendung. para pengurus ANSOS menyudahi acara mereka. Bingkisan untuk anak-anak sudah dibagikan, pemberian piagam penghargaan untuk KOPAJA di wakili oleh Abang Bani pun terlaksana, kemudian diakhiri doa terlantunkan; hanya tinggal kata perpisahan yang belum terucap. Di luar mushola, para pengurus ANSOS mengadakan photo bersama dengan sebuah spanduk terbentang bersama pengurus KOPAJA. Kak Chici, Kak Ami, Kak Amanah, Abang Ariri, ABang Riyan, Abang Bani, Abang Reza, Abang Nizam serta Abang Azzam mulai merapat (Biasa narsis dikit, hehe).

Setelah sholat dzuhur berjamaah, Muhairi Ihsan yang biasanya disapa Ihsan sebagai ketua pelaksana memberikan beberapa statment mengenai acara yang mereka adakan, serta kesan-kesan mereka mengenai KOPAJA itu sendiri. selama berbincang-bincang dengan salahsatu pengurus KOPAJA, beliau menyatakan bahwa program BAKSOS tersebut merupakan program baru tahun 2014 ini. Program-program ANSOS terfokus kepada anak-anak yang kurang mampu, yang memang membutuhkan bantuan. Visi dan misi ANSOS sendiri adalah mencerdaskan bangsa, dan untuk saling berbagi, salahsatunya dengan KOPAJA (Komunitas peduli anak-anak Marjinal) Jakarta . kesan -kesan rekan ANSOS terhadap acara tersebut adalah walau dengan suasana sederhana, apa adanya. "Khorunnas 'anfa'uhum linnas, moga kita adalah orang-orang yang bermanfaat bagi kalangan masyarakat banyak," ujar Kak Ihsan yang juga sebagai ketua pelaksana dari acara BAKSOS tersebut mengakhiri pembicaran. Semua mahasiswa POLITEKNIK Negeri Jakarta yang tergabung di ANSOS sudah mulai meninggalkan lapak Kebayoran dengan wajah senang dalam berbagi kebahagiaan dengan anak-anak didik KOPAJA Jakarta. [JARIN-KOPAJA]


Selasa, 30 Oktober 2012

Sejarah KOPAJA Bag.3


Berwisata Hati


Bismillahirrahmanirrahim

Ini tentang perjalanan di tengah terik matahari dan titik hujan yang menyisakan api kepedulian.

Hari ini, saya memiliki agenda pertemuan dengan KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan). Pertemuan di Blok M kali ini merupakan pertemuan ketiga saya dengan teman-teman seperjuangan yang memiliki secuil kepedulian terhadap saudara-saudara kami yang ada di jalanan. Di Masjid Nurul Iman Blok M Square, kami membahas sejumlah persiapan untuk bakti sosial yang sudah saya siapkan dari rumah.

Singkat cerita, setelah membahas hampir seluruh persiapan bakti sosial dan melaksanakan shalat zuhur, kami melanjutkan ke agenda kedua, yaitu menyurvei tempat anak jalanan yang hendak menjadi sasaran kami. Cukup pening awalnya. Hehe, karena saya harus berkali-kali menelepon seorang kawan untuk menanyakan lokasi anak jalanan dekat Blok M. Setelah cukup lama berputar Blok M dan memutar kepala agar pertemuan kami tidak sia-sia, kami memutuskan untuk langsung ke wilayah anak jalanan tersebut tanpa menunggui mereka di tempat tongkrongan mereka.

Perjalanan kami lanjutkan ke tempat sasaran. Hehe, bermodal nekad (karena tak ada satu pun dari enam orang yang hadir yang tahu di mana letak kampung pemulung yang hendak kami datangi). Saya dan yang lainnya menuju kawasan Gandaria City menggunakan metro mini. Kira-kira setengah jam perjalanan kami baru sampai di samping Gandaria City.

Seperti yang tadi sudah saya bilang, tak ada satupun di antara kami yang tahu di mana tepatnya kampung kumuh yang dimaksud seorang teman kami yang bernama Aris. Um, meski saat itu matahari benar-benar sedang membelalak ganas, kami tetap berusaha mencari tahu di mana letak kampung pemulung ini. Alhasil, setelah bertanya-tanya kepada beberapa orang tibalah kami di suatu daerah yang benar-benar membuat saya tidak mampu berkomentar apa-apa.

***

Sebuah pusat perbelanjaan yang cukup megah menjadi patokan kami untuk menemukan kampung pemulung tersebut. Kami berjalan bersama asap kendaraan yang menjejali Jakarta hingga ke sebuah apartemen mewah yang bersebelahan dengan pusat perbelanjaan yang tak kalah mewahnya. Sebuah jalan panjang terbentang di depan apartemen itu. Ini bukan jalan menuju pintu masuk apartemen! Ada pagar tinggi yang membatasi jalan masuk apartemen yang biasa dilewati mobil-mobil bergengsi dengan jalan yang menjadi tapakan kaki-kaki tak beralas.

Kami berjalan hingga sebuah percabangan jalan. Ini masih di areal aparteman. Sedikit terkejut. Pemandangan kontras hinggap di pengelihatan kami. Percabangan yang kami pilih untuk meneruskan perjalanan kami adalah jalan setapak yang becek dan penuh tumpukan sampah di kanan kiri. Sebuah pemandangan yang “bikin geli” ketika saya mendongakkan kepala ke arah kanan dan melihat gedung apartemen yang bersih gagah terpancang.

Di jalan setapak ini, kami masih meraba perjalanan kami. Kami masih bertanya-tanya ke beberapa orang letak kampung pemulung yang dimaksud oleh Aris. Kurang dari sepuluh menit memasuki perumahan kumuh yang terselip di antara apartemen itu, akhirnya kami menemukan apa yang kam cari; kampung pemulung. Sebuah tanah lapang yang lebih mirip dengan tempat pembuangan sampah, kira-kira begitulah gambarannya. Di sana memang banyak sampah-sampah yang masih berguna, seperti kadus, plastik, besi, dan berkarung-karung hasil pulungan lainnya.

Satu lagi. Saat itu saya disajikan satu pemandangan yang sungguh mengcampuradukkan rasa di hati. Ada sedih, geram, dan benci. Di hadapan saya terpotret keadaan yang sangat tidak wajar. Sebuah aparteman megah bersanding dengan rumah-rumah yang lebih mirip penampungan sampah.

“Kok mereka bisa ya tidur nyenyak di apartemen itu? Bukannya dengan sekali melihat dari jendela apartemennya mereka bisa langsung tahu kondisi ‘tetangga’ mereka?” gumamku dalam hati.

Tapi entah apa yang sudah terjadi. Kondisi seperti ini justru seperti menjadi hal yang biasa saja bagi para penghuni kampung pemulung, pun itu bagi warga sekitar yang dari nampak rumahnya jelas bisa dikatakan mapan.

Entahlah. Seperti ada yang salah dalam pikiran orang-orang yang ada di sekitar saya saat itu. Mengapa mereka tega? Mengapa mereka bisa membiarkan keadaan dekat mereka seperti ini? dan sejumlah pertanyaan tak menerima fenomena di depan mata muncul bertubi-tubi dalam kepala. Entahlah. Seperti ada yang salah dalam hati orang-orang yang ada di sekitar saya saat itu, apalagi dengan hati orang-orang kaya yang ada di apartemen yang baru saja saya lewati. Ada yang tidak berfungsi!; Mata dan hati mereka, itu kata hati saya.

Ah, saya lebih sedih lagi ketika dengan cepat pikiran saya yang lain mengatakan, “Mungkin Tuhan telah mengunci hati mereka dan membutakan mata mereka, tapi mereka tidak tahu.” Ah, na’uudzubillah! Dan dikuncinya hati adalah satu Kehendak Allah yang paling saya takutkan. Betapa nikmat-nikmat seakan tercabut ketika saya mengandaikan diri sebagai seorang yang dikunci hatinya.

Oh iya, satu hal yang saya percayai adalah kepekaan mata justru diukur ketika mata kita terpejam. Dengan kata lain, pengelihatan tak sekadar sebatas pada mata, tapi juga sampai ke satu titik yang tersembunyi bernama hati. Dalam perjalanan seharian ini, saya mendapatkan banyak pengalaman yang sangat berharga. Dan, saya harus menyadari bahwa sepertinya saya pun kurang peka. Karena ternyata, sebelumnya saya selalu melewati wilayah kampung pemulung yang terhimpit gedung-gedung megah setiap hendak ke UIN. Ini baru saya sadari saat perjalanan pulang. Oleh karena itu, saya menganggap perjalanan ini sebagai berwisata hati.

Lantas, apa yang perlu dikoreksi? Hati. Kata seorang ustzad yang saya kenal, adalah tanda matinya hati ketika seseorang tidak bergerak hatinya ketika melihat satu hal yang menyedihkan. Semoga kita termasuk dalam bagian orang-orang yang masih dihidupkan hatinya. Amin.(*)

Ini adalah kisah pencarian tempat binaan KOPAJA. Tempat ini sampai sekarang menjadi ladang amal kakak-kakak KOPAJA untuk berbagi cinta menuju cita-cita adik-adik Pemulung.



*Penulis adalah penggagas KOPAJA

Sejarah KOPAJA Bag. 2


Dari Balik Deretan Bus Terminal Pulogadung


Bismillahirrahmanirrahim

Teman-teman masih ingat dengan KPAJ Jakarta (Komunitas Peduli Anak Jalanan Jakarta)? Sekarang, singkatannya sudah direvolusi menjadi KoPAJA (supaya mudah disebut dan lebih akrab dengan nama Jakarta identik dengan angkutan umum “kopaja”). Dalam catatan kali ini, saya ingin berbagi sedikit cerita tentang proses usaha saya untuk mengembangkan KoPAJA.

Lebih dari seminggu yang lalu, saya menghubungi Kak Hulaifah, istri Kak Zaky (Pembina Punk Muslim), yang sudah saya anggap kakak sendiri. Melalui pesan singkat saya menanyakan wilayah yang banyak anak jalanannya, namun belum mendapatkan pembinaan. Setelah banyak berbincang, Kak Hulai menyarankan saya untuk ikut bersamanya membina beberapa anak jalanan di Terminal Pulogadung yang sangat kekuranganvolunteer (relawan) perempuan.

Setelah mendapatkan bantuan jaringan dari Kak Hulai, saya niatkan untuk bisa berkunjung ke Pulogadung kamis lalu (27/10). Tapi, karena harus mempersiapkan kepergian saya ke luar kota, saya baru bisa menyempatkan diri ke sana kemarin, kamis 3 November 2011.

Setelah shalat ashar, saya dan seorang teman saya berangkat dari kampus menuju Terminal Pulogadung. Kami berdua turun di pasar sebelum terminal. Ternyata perjalanan masih cukup jauh untuk menuju terminal, lebih dari 500 meter. Karena belum mengenal lingkungan sana, saya menunggu Kak Hulai yang masih dalam perjalan di depan mini market. Kurang lebih setelah setengah jam kami menunggu, Kak Hulai datang dan langsung mengajak kami berdua menuju rumah salah seorang anak jalanan.

***

Kami menelusuri tepian pasar yang ada di dekat terminal. Lalu memasuki gang kecil yang berkelok. Di ujung gang, saat jalanan mulai melebar, Kak Hulai memperkenalkan kami dengan seseorang yang kami panggil Mbak Sumi. Kemudian, Mbak Sumi mengajak kami bertiga melewati gang kecil yang hanya bisa dilewati satu orang. Perlahan-lahan kami kehilangan matahari senja, kami menelusuri gang yang lebih sempit lagi, lebih sesak lagi. Hanya bau kotoran tikus yang tertangkap oleh hidung saya.

Di unjung gang, kami masuk ke sebuah rumah yang sangat sederhana. Di dalam ruangan yang hanya bisa diisi oleh kurang lebih enam orang dengan duduk melingkar, ada satu  lemari pakaian tanpa pintu, satu rak piring, dan dua dipan (satu untuk duduk atau tidur dan yang lain untuk meletakan perabotan rumah tangga).

Di dalam sana Kak Hulai memperkenalkan kami dengan penghuni rumah yang bernama Bu Mari, beliau sedang sakit saat kami datang. Sambil menunggu adzan maghrib, kami berbincang dan mengatakan maksud kedatangan kami ke sana, juga membicarakan apa yang akan kami lakukan selepas maghrib nanti.

Singkat cerita, ba’da maghrib saya dan yang lainnya berangkat ke rumah lain yang lebih luas. Di sana saya bertemu dengan beberapa teman anak jalanan lain yang ingin belajar mengaji. Jumlah mereka ada empat orang. Pertama, namanya Nada, seorang gadis yang masih duduk di bangku kelas tiga SMP, di suka sekali bercanda dan tertawa. Kedua, namanya Mbak Nida, wanita kurus dengan kulit gelap, yang ini sedikit malu-malu. Ketiga, Mbak Sumi, wanita kurus berkulit bersih yang sehari-harinya bekerja mengasuh anak tetangganya sendiri. Terakhir adalah pemilik rumah, namanya Mbak Nia, wanita lulusan SMA tahun 2007 yang pernah bekerja menjadi satpam.

***

Ini adalah pertemuan kedua mereka dengan Kak Hulai dalam kelas. Saya dan teman saya membantu Kak Hulai untuk mengajarkan baca tulis al-quran. Pelajaran hari ini adalah makhorijul huruf. Sebelum memulai pelajaran, Kak Hulai bertanya, “Nada dan mbak-mbak di sini tahu huruf hijaiyah kan?” Dengan spontan Mbak Sumi menjawab, “Saya mah gak tau tulisan Arab, Mbah Ulai. Ngaji aja seumur-umur kagak pernah.”

Saya benar-benar terkejut saat mendengar jawaban Mbak Sumi. Di usia yang kira-kira sebaya dengan Kak Hulai, ia belum mengenal huruf hijaiyah. Saat mendengar jawaban ini saya baru sadar kenapa saat maghrib tadi saya mengajak Mbak Sumi untuk shalat, ia hanya menjawab dengan senyuman sambil menggaruk-garuk kepala.

Saya tidak bisa membayangkan kepolosan Mbak Sumi yang mengakui bahwa dia belum pernah mengenal huruf hijaiyah sebelumnya. Bagaimana hidupnya selama ini? Tidakkah kedua orang tuanya mengajarkannya agama? Apakah kedua orang tua nya juga tidak mengenal al-quran? Apakah berarti kedua orang tuanya juga tidak shalat? Aiih, serentetan pertanyaan tiba-tiba menjejal di kepala saya.

Meskipun banyak celetukan yang membuat miris, proses belajar tetap belajar dengan lancar. Bahkan, penuh dengan warna. Ada Nada dengan gaya tertawanya yang membahana dan sering membuat saya terkejut. Mbak Sumi dengan kata khasnya “yassalam” setiap salah mengucapkan huruf atau ketika belum bisa juga mengucapkan ‘ain dan kho. Mbak Nida dan Mbak Nia yang cuma bisa senyum-senyum karena tidak bisa mengucapkan beberapa huruf. Seru!

Selesai mengajarkan makhorijul huruf dan member PR kepada teman-teman jalanan, kami memceritakan sebuah kisah tentang keislaman Ummu Sulaim. Di tengah keasikkan mendengarkan cerita, tiba-tiba hujan turun. Cukup deras. Mbak Sumi yang tidak menyadari hujan turun langsung terkejut saat tubuhnya terasa dingin dan dia langsung meminta izin untuk pulang lebih dulu karena takut atap rumahnya bocor.

Indah. Dari balik deretan bus terminal Pulogadung inilah aku menemukan momen indah di awal bulan ini. Mengenal Nada yang selalu tersenyum, Mbak Sumi yang blak-blakkan tapi malu-malu. Mbak Nida dan Mbak Nia yang lebih banyak diam tapi lucu. Beberapa jam sebelum bertemu mereka, saya masih tidak bisa menerka bahwa teman-teman yang akan saya temui adalah seperti mereka, teman-teman yang memiliki semangat luar biasa meskipun di lain sisi banyak yang melihat kekurang mereka.

Ah, banyak cerita bersama mereka yang tidak dapat saya tuangkan dalam kata-kata melalui catatan ini. Entahlah, terlalu indah bersama mereka. Dalam “ruang kelas dadakan” ini, saya menemukan sejumput kasih sayang yang berbeda kepada mereka yang belum saya kenal seutuhnya. Kasih sayang ini datang tiba-tiba. Kalian tahu?  Seperti ada embun yang metes di pipiku. Tes… Dingin seketika, tapi tidak menggigit. Dinginnya menyejukkan. Membuat mata pagi mebelalak. Segar. Lalu perahan embun itu menguap. Tidak menimbulkan panas. Tapi hangat yang menyuburkan semangat.

Ini baru dunia yang luar biasa!

Begitulah aku membatin sepanjang pertemuan dengan mereka. Bukan seberapa besar materil atau moril dalam memberi, tapi sebuah keistiqomahan yang lebih penting dari sederat angka nol dalam rupiah.

Oh iya. Saudara-saudariku, perlu kita sadari bersama bahwa sejatinya mereka tidak membutuhkan belas kasihan dari orang yang merasa lebih dari mereka, tapi kasih sayang dari kita dan rangkulan yang setara dan sederajatlah yang mereka butuhkan.

*Penulis adalah penggagas KOPAJA

Sejarah KOPAJA Bag. 1

Setitik Mimpi untuk "Matahari Jakarta"
KPAJ Jakarta (Komunitas Peduli Anak Jalanan Jakarta) 


Bismillahirrahmanirrahim

Berawal dari keprihatinan terhadap adik-adik yang berlalu lalang membawa sejumlah "alat" jalanan, saya memiliki satu target dalam daftar perencanaan hidup yang saya miliki, yakni membuat sebuah rumah singgah atau yayasan yang menampung anak jalanan dan membantu mereka terutama dalam bidang pendidikan umum maupun agama. Hampir setiap hari, setiap saya bertemu dengan adik-adik kecil itu di pinggir jalan ataupun di dalam bus kota, mimpi itu kembali memanggil dari alam bawah sadar saya. Panggilan mimpi itulah yang membuat saya selalu mengulang doa kepada Allah agar suatu saat mimpi kecil ini bisa menjadi kenyataan.

Keingin saya semakin kuat ketika pada beberapa kesempatan di sela-sela kesibukan kuliah sayamengobrol dengan Ani, Ian, dan Akbar, tiga bocah penjaga sepatu di masjid kampus. Saya semakin prihatin ketika tahu bahwa di antara mereka ada yang putus sekolah. Alasannya "lebih enak nyari duit". Miris bukan? Terlebih ketika sambil berbincang saya mengajak mereka "main tebak-tebakan" tentang ilmu dasar agama, seperti rukun Islam, rukun iman, jumlah rakaat salat, nama-nama nabi, dan lain-lain, tidak banyak yang mereka tahu. Saya semakin sedih saat tiba waktunya salat saya mengajak mereka untuk salat bersama, tapi mereka bilang, "Nanti aja, Kak, jaga sepatu aja ya." Setelah saya selesai salat dan menyuruh mereka salat untuk kedua kalinya, mereka hanya senyum sambil mengisyaratkan ketidakinginan mereka untuk salat. Um, jika mereka yang hidup dilingkungan berpendidikan dan dekat dengan unsur keagamaan saja seperti itu, bagaimana dengan mereka yang ada di jalanan? Apakah mereka masih mengenal apa itu Allah dan al-quran? Apakah mereka diperkenalkan dengan Islam? Ah, pikiran saya semakin terpecah dan resah.

Keresahan ini masih berlanjut hingga sekarang, sampai akhirnya entah bagaimana (saya lupa), melalui jejaring sosial ini Allah kembali mengingatkan saya akan mimpi kecil yang ingin segera dibebaskan ke dunia nyata. Dengan sekali klik, saya bergabung dalam suatu komunitas bernama KPAJ (Komunitas Peduli Anak Jalanan). Sayangnya, komunitas ini berada di Makassar dan memang lahir di Makassar. Karena saking inginnya berjuang di jalan ini, saya bertanya tentang apa yang dapat saya kontribusikan meski saya ada di Jakarta. Seorang kawan KPAJ Makassar mengabarkan bahwa di pulau Jawa sudah ada KPAJ Bandung yang baru lahir bulan ini. Kalau dipikir-pikir, jika memang bisa membentuk untuk Jakarta, why not?

Setelah bertanya-tanya kepada "aktivis jalanan" yang sudah berpengalaman di KPAJ, dengan bermodalkan nekad, 22 Oktober 2011 saya meng-update status yang berisi ajakan kepada teman-teman yang berdomosili di Jakarta dan memiliki kepudian tinggi kepada anak jalanan untuk membentuk KPAJ Jakarta.

*Penulis adalah penggagas KOPAJA

Karena Ratna Kuat! (Cerita Inspirasi Gerakan 1000 Buku untuk Anjal)



Bismillahirrahmanirrahim

Sebuah buku mungkin tidak cukup berarti harganya bagi yang memiliki uang berlebih. Sebuah buku mungkin sangat berarti harganya bagi yang tak mampu membeli.

Ini tentang keistemewaan, membedakan yang istimewa dan tidak istimewa. Yang membedakan seberapa istimewanya sebuah benda yang ada di tangan kita adalah usaha yang kita lakukan untuk meraihnya.

Siang itu saya makan di salah satu rumah makan dekat Rumah Pustaka FLP Ciputat bersama dengan dua sahabat saya. Lalu, tiba-tiba seorang bocah perempuan berjilbab masuk ke dalam rumah makan. Dia masuk tidak untuk makan. Dia masuk untuk meletakkan amplop-amplop kecil di atas meja tamu dan menanti tangan-tangan berbaik hati memasukkan uang ke dalam amlpopnya.

Saat mendekati meja kami, bocah perempuan itu menunjuk kotak makan yang dibawa sahabat saya. “Apa itu, Kak?” tanyanya polos, matanya tertuju pada tumpukan cokelat buatan sahabat saya.

“Ini cokelat. Kamu mau?” teman saya mengulurkan dua buah cokelat ke tangannya. Sambil malu-malu, dia mengambil cokelat itu dan pergi, meletakkan amplop di meja lain. Saat mendekati meja kami lagi, bocah ini tersenyum, cantik sekali.

“Ini bawa lagi,” kata saya dan sahabat saya serentak. Tangannya kini penuh dengan cokelat.

Begitulah awal perjumpaan saya setengah tahun lalu dengan seorang bocah perempuan bermata embun. Ratna namanya. Usianya saat itu tidak kurang dari tujuh tahun. Meski mengamen dari satu rumah makan ke rumah makan lainnya, Ratna tetap terlihat cantik  di balik jilbab dan gamisnya yang lusuh.

***


Kemarin, 6 Oktober 2012 saya bertemu lagi dengan bocah bermata embun ini, di sebuah rumah makan tepat di samping UIN Ciputat. Kali ini masih sama, dia masuk tidak untuk makan, tapi untuk mencari uang. Dia masuk dan langusng meletakkan amplop di setiap meja makan. Dengan ragu-ragu saya menyebut namanya saat dia mendekati meja saya. Tapi dia tersenyum, lalu tertawa kecil sambil mengiyakan panggilan saya.

Saat kami bertanya balik siapa kami, ternyata Ratna sudah lupa dengan kami. Well, akhirnya, untuk kedua kalinya kami berkenalan lagi. Lalu, tiba-tiba Ratna berbisik di telinga saya, “Kakak, Kakak, tadi aku lihat buku bagus di depan sana. Aku mau beli buku itu tapi gak punya uang. Kakak mau gak beliin buat aku?”

“Buku apa itu?” saya ikut berbisik di telinganya.

Ternyata, Ratna ingin membeli buku cerita yang ada di bazaar buku  Mizan, dalam kampus UIN Ciputat. Selesai makan kami bertiga berjalan ke Rumah Pustaka untuk mengambil uang.

Saat tiba di dalam Rumah Pustaka, Ratna berteriak kegirangan. “Waaah, banyak buku ya, Kak.”

“Iya, di sini bukunya banyak. Kalau Ratna mau baca buku, ke sini aja ya,” kata teman saya.

Kurang lebih limabelas menit kami di Rumah Pustaka. Sejak masuk Rumah Pustaka, Ratna tak beranjak sedikitpun dari rak-rak buku. Dia terlihat sangat asik memilih-milih buku yang berjejer di rak. Setiap judul buku diperhatikannya, diambil, dibuka-buka, diberitahu kepada kami jika ada yang menarik, bertanya kepada kami jika ada yang membingungkan, dan meletakkannya kembali ketika melihat judul buku yang lebih menarik perhatian.

Deretan buku yang hampir setiap pekan saya lihat, memang hanya deretan buku biasa. Tapi hari itu, deretan buku-buku itu menjadi luar biasa di mata embun Ratna. Tangan kecil Ratna asik menjalari buku-buku berdebu yang berderet di sudut yang hampir tak pernah disentuh.

Setelah puas melihat-lihat buku Rumah Pustaka, kami keluar menuju bazaar buku Mizan. Ketika keluar dari Rumah Pustaka, Ratna melihat pintu masuk rumah makan yang ada di dekat Rumah Pustaka penuh dengan sandal. Itu artinya, di dalam sana banyak tamu yang hendak makan. Sambil malu-malu, Ratna yang sedari tadi menggandeng tangan saya berhenti berjalan dan berkata, “Aku mau ke sana dulu, Kak, lagi rame.”
Saya dan teman saya hanya tersenyum, mengangguk. Salut.

Bagi anak lain, rumah makan penuh tidak akan berarti apa-apa. Tapi bagi Ratna, dan anak-anak yang dibesarkan bersama kerasnya kehidupan, rumah makan yang penuh adalah peluang untuk mencari selembaran uang. Miris. Mereka tumbuh cerdas dan dewasa jauh dari usianya.

Setelah Ratna mengamen, kami bertiga langsung melaju ke bazaar buku. Sambil melompat kegirangan, Ratna menghampiri tumpukan buku anak-anak. Meraba-raba sampul buku. Membolak balik isinya. Mengomentari gambar-gambar yang ada di dalamnya.

Beberapa menit dia asik memilih, akhirnya satu buku diserahkannya kepada saya.

“Ini aja? Cuma satu?” teman saya bertanya.

“Memang boleh beli dua?” Ratna bertanya dengan polosnya.

“Boleh,” saya dan teman saya menyahut bersamaan.

“Asiiiiiiiik,” Ratna langsung membelakangi kami, berlari kegirangan.

Dua buku sudah di tangan Ratna, komik Upin-Ipin dan 101 Info tentang Sedekah for Kids. Ratna terus tersenyum saat kami antre di kasir.

Sebelum berpisah, Ratna ragu-ragu berkata, “Kakak, aku harus cari uang lagi.”

“Gak apa-apa. Tapi hati-hati ya.”

“Kakak, aku mau beli buku sekolah harganya 90.000, kalau uangku baru 58.000 berarti kurang 32.000 lagi ya?” kata Ratna dengan polosnya.

Entah kenapa, setelah mendengar pertanyaan itu saya merasakan ada hal yang berbeda masuk ke dalam diri saya. Sambil mengangguk mantap, saya dan teman saya kompak berteriak, “Semangaaaaat! Semangat beli buku sekolah!”

“Semangaaaat! Ratna bisa! Ratna kuat! Yeeee.” Ratna ikut berteriak sambil mengangkat tangannya.

Di sinilah kami berpisah. Sedih. Tapi, ya, bagaimana lagi. Ratna yang memiliki ibu seorang pembantu dan ayah seorang kuli bangunan masih harus mencari uang untuk membeli buku. Pelukan hangat mengakhiri pertemuan kedua kami sekaligus menjadi doa, semoga kami bisa bertemu lagi :’)

***

Ada banyak pelajaran yang saya dapatkan dari Ratna. Ada banyak energi positif yang saya terima dari bocah bermata embun ini. Ada semangat yang tak berkesudahan dan kekuatan optimisme yang diiringi keriangan yang dimiliki Ratna, dan semua itu belum saya miliki.

Segenggam iri terkepal dalam malu. Lalu saya  bertanya pada diri sendiri, apakah kamu cukup bangga dengan apa yang sudah kamu usahakan hingga saat ini? Tidak. Apa yang sudah saya usahakan hingga saat ini tidaklah berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kemauan dan semangat yang Ratna punya.

Haru. Malu. Itulah yang saya rasakan sampai hari ini, setiap kali mengingat wajah surganya.

“Ratna kok ngamen? Memangnya gak dicariin sama ibu?” saya bertanya di sela-sela pertemuan kami.

“Nggak dong, kan Ratna udah gede. Ratna bisa kemana-mana sendirian, karena Ratna kuat! Yeeeee!” Ratna menjawab dengan semangat. Berteriak. Melompat.

Karena Ratna kuat. Mungkin saja Ratna tidak mengerti apa itu artinya kuat. Mungkin juga Ratna tidak tahu seberapa besar kekuatan yang harus kita miliki untuk dapat bertahan hidup di tengah derasnya masalah. Tapi, Ratna telah mengajarkan kepada saya untuk menjadi kuat dan hebat bukan berarti kita harus paham teori kuat dan hebat dalam hidup itu seperti apa.

Dari senyuman dan tawa Ratna, saya belajar arti keriangan. Dari keriangannya saya belajar untuk selalu bahagia, dalam keadaan ada atau tiada. Dari keriangannya saya belajar berhusnuzan pada Allah, bahwa Allah Mahabaik. Bahwa Dia senantiasa mengiringi kesulitan dengan kemudahan.

Dari mata embun Ratna, saya belajar arti keikhlasan, kesabaran. Bahwa keikhlasan, dan kesabaran adalah ketika kita menatap ke depan dengan mata berbinar dan berkata, “Allah Maha Menepati janji-Nya. Allah menjanjikan keberhasilan bagi orang-orang yang berusaha.”

Dari sentuhan tangan mungil Ratna, saya belajar arti kerja keras. Optimis, husnuzan, dan ikhlas tidaklah cukup untuk menjadikan kita sebagai orang yang kuat. Kerja keras adalah optimisme dan husnuzan pada Allah dalam bentuk yang berbeda. Bahwa dengan bekerja keras, kita yakin bahwa Allah akan menghitung setiap peluh yang jatuh dan menggantinya dengan yang lebih indah.

Dari Ratna saya tahu arti istimewa. Yang istimewa baginya adalah buku-buku yang disukainya tapi tak mampu dibelinya. Yang istimewa adalah yang kecil, yang didapatkan dengan segenap kemauan  besar dan kerja keras. Yang istimewa adalah yang didapatkan dengan usaha terbaik kita :)

Semangat mencari 32.000 lagi, Ratna! Terima kasih atas pelajaran yang berarti dan tak terganti. Semoga kamu tumbuh menjadi gadis yang shalehah dan dirindukan surga. Semoga semakin kuat! :’)

*Penulis adalah penggagas KOPAJA

Minggu, 21 Oktober 2012

Kenangan Pesantren Kilat Anak Jalanan 1433 H KOPAJA (Part 3)


*Oleh: Lisfatul Fatinah Munir


Bismillahirrahmanirrahim

Katanya, jatuh cinta adalah ketika pikiran tersita pada satu sosok yang menarik perhatian kita. Ketika bangun tidur tiba-tiba teringat seseorang, hendak makan teringat seseorang, selesai shalat teringat seseorang, katanya itu tanda-tanda kita sedang jatuh cinta pada orang yang wajahnya terus berputar di pikiran. Jika memang semua itu benar, itu berarti beberapa hari lalu hingga saat ini saya sedang jatuh cinta pada seseorang.

Semua berawal dari ketertarikan. Lalu, ia berubah menjadi simpati dan bermetamorfosa menjadi serangkaian rasa melebihi sayang dan kasih. Begitulah kira-kira yang saya rasakan beberapa hari ini sebagaimana proses tumbuhnya cinta secara universal.

Melalui sebuah skenario Allah yang tak terduga, saya mengenalnya dan dekat dengannya dalam waktu yang amat singkat. Mulanya, ibu yang mengenalkan saya padanya. Meski awalnya saya merasakan hal yang biasa-biasa saja sebagaimana saya berinteraksi dengan lelaki sebayanya, tapi semakin lama saya bersamanya, selalu di dekatnya, membuat ketertarikan diam-diam merangkak di dalam dada.

Satu jam dua jam saya bersamanya, perlahan tapi pasti kasih dan sayang merambahi sekujur tubuh saya untuk terus saya alirkan pada lelaki ini. Di jam-jam selanjutnya, dan di hari berikutnya, aliran kasih dan sayang ini semakin deras. Hingga, tanpa saya sadari, airmata ini ikut menderas bersama sebuah pengakuan bahwa saya sedang jatuh cinta. Ya, saya jatuh cinta pada lelaki ini.

Sepertinya, cukup mudah bagi Allah untuk mengatur rasa yang ada pada diri saya. Tiga puluh tiga jam bersamanya, saya habiskan untuk selalu di dekatnya. Tiga puluh tiga jam bersamanya, saya habiskan untuk terus memupuk kasih dan sayang yang kini–saya akui–telah berbunga cinta. Dan, saya harus berani berkata, “O Allah, saya jatuh cinta padanya, pada lelaki yang Kau kirimkan di pagi buta kepada saya, yang selalu di dekat saya, meski hanya tiga puluh tiga jam lamanya.”

***

Ya, begitulah saya harus mengakui cinta yang berjingkat-jingkat di diri ini. Berbeda dengan cinta biasa yang dipahami banyak orang, cinta saya kepada lelaki ini sebagai syukur saya atas apa-apa yang saya miliki selama ini. Cinta saya untuk lelaki ini adalah sebentuk cinta yang perintahkan Allah dan Rasulullah saw. Saya mencintainya, lelaki kecil tak berayah yang selalu di dekat saya selama tiga puluh jam lamanya.

Ndi, begitulah lelaki kecil ini memanggil dirinya sendiri. Nama sebenarnya adalah Sandi. Dialah lelaki kecil yang dengan kepolosannya telah merenggut hati saya, membuat saya menumpahkan ketertarikan, kasih, dan sayang kepadanya, hingga saya harus mengaku bahwa saya mencintainya.

Perkenalan kami bermula pada kegiatan Pesantren Kilat Anak Jalanan yang diadakan KOPAJA. Saat sedang membicarakan persiapan acara dengan ibu saya, tiba-tiba ibu saya bertanya apakah masih bisa memasukkan peserta untuk acara ini sebab ibu mengenal tiga bocah pengamen sekaligus joki yang belum mendapatkan binaan.

Beberapa hari selanjutnya, setelah saya menyetujui tiga peserta tambahan yang direkomendasikan ibu, saya mendatangi kediaman tiga anak itu. Tapi, berhubung rumah ketiganya adalah kawasan kumuh tempat pada pengamen, pengemis, dan joki tinggal, seorang ibu muda menghampiri ibu saya dan bertanya apakah anaknya boleh ikut serta di acara kami. Saat itu saya tidak tahu berapa usia anak tersebut, tapi seketika itu juga saya dan ibu saya mengiyakan permintaan ibu muda tersebut.

Keesokan harinya, saat langit pagi masih abu-abu, saya menjemput keempat anak tersebut. Saya agak terkejut ketika ibu muda yang pernah menemui ibu saya dan saya menuntun anak lelaki usia lima tahun dan menyerahkan anak itu kepada saya. Ketika tangan lelaki kecil itu menggenggam tangan saya, ada desir aneh di dalam dada ini. Rasanya melebihi haru. Entah rasa apa itu, tiba-tiba hati saya semakin luluh ketika lelaki kecil itu tersenyum kepada saya.

Singkat cerita, sejak pagi buta itu saya selalu bersama Sandi, paling tidak berusaha menjalankan amanah ibu Sandi agar saya menjaga Sandi.

Kurang lebih tiga puluh tiga jam saya bersama Sandi. Kemana saya pergi, di situlah saya menggenggam lengan Sandi. Kendati saya harus mondar-mandir membantu berjalannya acara, Sandi tetap mengikuti saya, memegangi gamis saya, memegang lengan saya, atau berlari kecil di belakang saya.

Selama bersama Sandi, saya merasa menjadi seorang ibu muda yang diikuti anaknya sendiri. Bagaimana tidak, setiap ada apa-apa, Sandi selalu melapor kepada saya. Ketika Sandi lapar di siang hari, saya harus mencari makanan di daerah puncak yang baru saya kenal, ketika Sandi mengantuk saya biarkan dia tidur di pangkuan dan pelukan saya, bahkan ketika panitia yang lain sibuk mengurus acara saya justru sibuk memandikan Sandi dan mengajaknya bermain.

Ini nikmat. Hanya itu yang ingin saya katakan selama bersama Sandi. Apalagi ketika sahur saya bangun dengan tubuh menggigil, saya harus tetap melihat Sandi yang tertidur terpisah dengan saya (Sandi di dalam kamar bersama peserta, sedangkan saya tidur di luar kamar bersama panitia lainnya).

Yang mengejutkan adalah ketika saya masih menggigil kedinginan di sampingnya yang masih tertidur pulas, tiba-tiba dia terbangun dan berkata ‘mau pipis’. Sambil menahan dingin, saya menuntunnya ke kamar mandi dan mengajaknya kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur. Tapi, sayanganya Sandi tidak ingin tidur. Ya, mau tak mau saya mengajaknya makan sahur. Di sinilah satu momen yang paling membuat hati saya luluh dan semakin mencintainya, lagi-lagi saya merasa menjadi ibunya. Sementara yang lainnya santap sahur di tengah udara puncak yang menusuk kulit, saya memeluknya dan menyuapinya. Selesai menyuapinya, saya membiarkan Sandi duduk di atas karpet dan bercanda dengan panitia yang sudah santap sahur, sementara itu saya mulai melaksanakan sahur.

Belum lagi ketika Sandi menangis karena malu ditertawakan oleh peserta yang lain karena kepolosan dan kelucuannya. Saat itu saya dengan spontan mengikutinya yang berlari ke kamar. Tak tega melihat air matanya mengalir. Lalu, saya mencoba membujuknya dan mengajaknya berkeliling vila. Lucunya, Sandi ingin digendong. Saat inilah kasih dan sayang yang saya miliki semakin berbunga menjadi kemabng-kembang cinta. Menggendongnya, menunjukkan pemandangan dari atas puncak sambil sedikit bernyanyi untuknya diam-diam membuat saya semakin mencintainya. Tanpa saya sadari, saat itu, ketika tubuh mungil Sandi masih berguncang karena tangisnya, saya turut menangis. Saya juga tak tahu mengapa air mata ini mengalir begitu saja. Yang jelas, saya benar-benar bahagia, serasa mendapat nikmat tak terkira ketika saya harus menjaga Sandi sebagaimana ibunya sendiri.

Waktu terus berjalan hingga Pesantren Kilat Anak Jalanan usai. Kami tiba di Jakarta ba’da Zuhur di Lapak Pemulung binaan KOPAJA. Selesai shalat dan menyuapi Sandi, saya dan yang lainnya pulang kerumah masing-masing, saya pun harus memulangkan Sandi pada ibunya.

Masih dalam keadaan letih saya tidur pulas sampai azan Ashar membangunkan saya. Kalian tahu apa yang saya lakukan saat bangun tidur. Saya mencari Sandi. Saya tidak sadar bahwa sekarang saya sudah berpisah dengan Sandi. Dan, setelah itu yang saya rasakan adalah rindu yang teramat sangat.

Keesokan harinya, saat makan sahur bersama keluarga, lagi-lagi saya teringat Sandi. Saya teringat ketika dia bangun untuk buang air kecil dan ikut sahur bersama saya. Untuk pertama kalinya, saya menangisi Sandi yang mungkin saat itu sedang tertidur pulas di rumahnya.

Siang harinya, saya kembali menjalan aktivitas di kampus. Entah, tanpa saya duga, ba’da shalat zuhur, tiba-tiba saya teringat Sandi. Senyum dan wajah Sandi semakin jelas ketika saya sedang membaca al-quran.  Sampai-sampai saya harus menghentikan bacaan saya dan saya malah menangis di sudut masjid kampus.
Mungkin ini namanya rindu, pikir saya saat mulai tenang ingin melanjutkan bacaan al-quran saya. Sebaris doa spontan terucap untuk keselamatan, kesehatan, dan kecerdasan Sandi kecil yang telah mengisi salah satu ruang hati saya.

Pagi tadi, saat saya hendak berangkat ke suatu tempat, saya menyengajakan diri melewati pasar tradisional yang biasa menjadi tempat bermain Sandi dan tiga bocah pengamen yang saya ajak ke kegiatan KOPAJA. Mata saya menelusuri sudut-sudut pasar dengan perlahan, berharap Sandi ada di salah satu tempat di pasar itu. Sayangnya, saya hanya bertemu dengan tiga bocah pengamen lainnya yang sudah siap berangkat menjoki di jalan three in one.

Saat hampir keluar dari pasar, ada sekumpulan anak kecil yang bercengkrama. Dengan hati-hati saya teliti satu-satu wajah anak-anak yang berkumpul itu. Belum selesai saya menelusuri wajah seluruh anak itu, tiba-tiba salah satu di antaranya berlari ke arah saya. Anak itulah yang saya cari. Dialah Sandi, lelaki kecil tak berayah yang telah merenggut segenap perhatian dan cinta yang saya punya.Lagi-lagi, mungkin karena saya cengeng, saya menangis di perjalanan.

Um, apakah begini rasanya jatuh cinta pada seseorang? Ingin terus di dekatnya, menjaganya, dan bisa bercengkrama dengan dia yang telah mengambil bagian dari hati kita?

Jika memang ini cinta, saya berharap ini cinta yang lillah. Saya berharap cinta ini berlandaskan ajaran Allah dan Rasulullah yang menganjurkan kita untuk mencintai anak yatim dan fakir miskin.

Satu hal besar yang saya pelajari dari perjalanan tiga pulung tiga jam bersama Sandi. Bahwa berkumpul dengan mereka, anak-anak pemulung, anak jalanan, anak yatim, dan fakir miskin adalah tahap awal untuk terus mengasah kepekaan dan kelembutan hati.


O Allah, saya jatuh cinta pada lelaki kecil tak berayah itu. O Allah, utuhkan cinta pada bocah yatim ini hanya atas nama-Mu dan Rasul-Mu, atas kesadaran sebagai hamba yang juga berkekurangan. Bahwa dengan mencintai lebih banyak lagi bocah yatim adalah cara saya untuk semakin mencintai-Mu, mencitai Rasul-Mu, dan mencintai agama-Mu yang penuh dengan cinta.

Allah, salam sayang untuk Sandi. Ah, konyol, saya berharap bisa mengasuhnya :’)

*penulis adalah penggagas KOPAJA

Kamis, 14 Juni 2012

TULISKANLAH (flash fiction)


Tulisan di bawah ini adalah flash fiction berdasarkan foto salah satu anak di Lapak Pemulung. Flash fiction ini dibuat dalam rangka perlombaan di ANJANGSANA Komunitas Serambi Sastra di bawah naungan FLP Ciputat.   




TULISKANLAH

Oleh: Irsyaddilsyukri
“Pak, tadi aku belajar nulis nama disekolah,” anak itu berkata pelan dalam pangkuan bapaknya. Kata-kata itu keluar diantara asap rokok dan suara televisi kecil. Kata-kata itu ingin membayar keringat pedagang buah itu. Anaknya mengundang senyum pada istirahat sore itu.


“Kalau begitu, tuliskanlah nama bapak di halaman depan bukumu,” senyum itu memanggil riang sang anak, dan ia berlari mengambil buku dan pensilnya. Dan lagi ia kembali pada dekapan sang ayah, dan asap rokok itu berhenti. Puntungnyapun bersaksi kalau anak itu menulis harap dalam aksara..



E D I



Dengan pensil menari, atas arang yang membentuk putih kertas. Disanalah anaknya memberi nasi sampai kenyang. Memberi emas hingga lunas. Menanam budi walau hanya dengan tiga huruf berdiri.



“Ini Yah! Ayah bisa lihat tulisannya. E D I!” Ia membaca sambil melihatkan buku itu. Masih dalam dekapan yang sama. Walau mata ayahnya buta kasara. Walau miskin merana.. Semanis mentari sore, tanpa tahu huruf E itu yang mana. Tanpa tahu hari pendidikan itu kapan adanya. Tapi sang ayah tahu, kalau anaknya mampu mebuatkan aksara dari namanya. Letihnya hilang. Dalam baris nama itu ia berjanji akan terus menyekolahkan anaknya, walau ia harus mati.


“Yang pentiing anakku harus sholeh dan pinter!” ujarnya sambil mengelus kepala sang anak.

Akhirnya (flash fiction)

Tulisan di bawah ini adalah flash fiction berdasarkan foto salah satu anak di Lapak Pemulung. Flash fiction ini dibuat dalam rangka perlombaan di ANJANGSANA Komunitas Serambi Sastra di bawah naungan FLP Ciputat.



Siang itu, matahari semakin berani menampakkan dirinya. Perlahan, cahayanya mulai menembus kaca di gerbong kereta yang sedang kami tempati. 


“Kakak lihat deh.” Kata seorang anak sambil menarik bajuku.

“Apa?”

“Ini hasil usaha kakak mengajariku selama ini.”

Aku melihat selembar kertas yang dia sodorkan padaku. Di kertas itu aku melihat sebuah kata yang dia tulis, “EDI.”

“Ini hasil tulisanmu?” tanyaku takjub.

“Ia dong, Ka. Selama ini kan Kakak ngajarin aku membaca dan menulis. Ini hasil tulisanku yang pertama kali.” 

Aku terdiam. Baru saja sebulan yang lalu aku mengajarinya membaca dan seminggu yang lalu mengajarinya menulis, namun perkembangannya sudah secepat ini. 

Dugaanku selama ini ternyata salah. Tidak semua anak jalanan malas untuk belajar. Buktinya, anak yang ada di hadapanku sekarang ini cepat sekali menerima ilmu yang aku beri. Walau di awal-awal belajar dia malas, tetapi kini dia sudah bisa membaca dan menulis.

Oleh: Gita Rizki Hastari

Minggu, 10 Juni 2012

MERANGKAI CITA DENGAN CINTA ^_^


Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah yang kasih sayang-Nya menyertai apa-apa yang ada di langit dan bumi. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw., manusia berhati cahaya.

Beberapa hari lalu seperti mimpi bagi saya. Ya, karena semua yang terjadi Ahad lalu awalnya hanya ada dalam angan-angan saya.

Berawal dari sebuah status iseng di facebook, saya mengajak teman-teman facebook saya untuk membentuk sebuah komunitas yang merangkul anak jalanan dan memberikan pendidikan pada mereka. Tanpa saya duga, banyak teman yang tertarik dan antusias dengan ajakan saya. Tak hanya teman-teman saya yang ada di Jakarta, tapi juga yang ada di luar Jakarta, seperti Bekasi, Bogor, Tangerang, sampai Sumatera.

Selanjutnya, perbincangan kami teruskan di grup facebook yang saya beri mana KPAJ (Komunitas Peduli Anak Jalanan) yang kini berubah (berdasarkan saran teman yang bergabung) menjadi KOPAJA dengan kepanjangan yang sama. Katanya, nama KOPAJA lebih mudah diingat dan identik dengan anak jalanan Jakarta yang biasa mengais rezeki di kopaja.

Setelah kurang lebih satu setengah bulan mandeg di facebook, akhirnya diadakan pertemuan pertama yang didatangi hanya tiga orang (saya, teman FLP, dan teman tsanawiyah). Pesimis. Itulah yang saya rasakan saat pertemuan pertama. Ya, meskipun di pertemuan pertama itu saya juga cekikikan sendirian karena yang datang ternyata bukan orang asing. Dengan modal sisa semangat, kami bertiga berkeliling Jakarta Pusat untuk mencari wilayah anak jalanan yang belum terbina. Cukup ngeri, yang kami datangi rata-rata anak jalanan yang usianya lebih tua dari kami dengan bahasa yang “jauh” dari kami.

Pertemuan ini berlanjut ke pertemuan kedua yang didatangi oleh orang itu-itu juga T_T (semangat menipis) dengan pembicaraan yang tak bersolusi. Sekitar satu bulan lebih saya mendiamkan grup di facebook sambil mencari tahu ke berbagai tempat tentang anak jalanan.

Alhamdulillah, sebuah ide untuk mengadakan bakti sosial ternyata dapat menyalakan kembali semangat teman-teman (dan semangat saya juga pastinya ^^). Alhasil, pertemuan ketiga dilaksanakan sambil mencari tempat sasaran yang
tepat. Dan, akhirnya kami tertarik untuk membina sebuah tempat bernama Lapak yang berupa lapangan luas yang dihuni oleh keluarga pemulung dan pengamen wilayah Jakarta Selatan. Yang membuat semakin miris, Lapak terletak tepat di belakang apartemen dan mal megah di kawasan Gandaria City, Jakarta Selatan. Dua wilayah dengan strata jomplang ini hanya dibatasi oleh sebuah kali.

Beberapa pertemuan kami lakukan hingga tibalah pada perealisasian rencana pada Ahad, 8 April 2012. Untuk menuju Ahad lalu, semua tidak berlangsung dengan mulus. Pada H-2 minggu, semangat beberapa teman mulai mengendur. Yang membuat saya sempat kesal, beberapa teman dengan santainya malah bilang, “Jangan saya yang ngurus ini ya.” Ya, kenapa tidak bilang sejak awal saja, supaya bisa segera dikerjakan oleh yang lain. Lalu yang lain menyerahkan amanah mereka kepada yang lainnya tanpa ada alasan pendukung. Ya, mau marah pun sepertinya tidak akan memperlancar pekerjaan. Kalau sudah begini, respon saya hanya, “Ooh, gitu. Okay. Gak masalah.” Hehe, padahal dalam hati meringis, nangis sambil menggerutu (Iya nggak, Mbah Nyai :D)

Tidak hanya itu, seminggu sebelum hari pelaksanaan ternyata uang yang kami pegang baru separuh dari yang seharusnya ada. Awalnya sih saya sengaja tidak menyinggung tentang keuangan, karena (saya rasa) dengan terus memberi semangat kepada teman-teman, ikhtiar, doa, dan tawakal, dengan cara-Nya uang itu akan datang sendiri. Eh ternyata, sebelum saya munutup rapat, seorang teman menyinggung hal ini. Ya sudahlah, dibicarakan juga akhirnya. Ya, meskipun intinya saya ingin acara ini tetap terlaksana pada hari yang telah ditetapkan sebelumnya dengan berapapun uang yang ada. Saat itu saya hanya memberi satu kalimat, “Yakin. Bantuan Allah selalu ada.”

Beberapa hari menjelang hari pelaksanaan….

Ribuan puja-puji kepada Allah serasa tak cukup kami ucapkan, karena dalam waktu kurang dari  seminggu bantuan Allah datang dengan berbagai cara melalui berbagai kalangan, bahkan melalui orang yang tidak saya duga. Alhamdulillah, uang yang terkumpul pun lebih dari yang kami butuhkan, dan sekarang masih bersisa cukup banyak. Alhamdulillah.

Lagi-lagi, saya dan (katanya) kembaran saya, Erny, menjadi wanita perkasa. Berhubung saya dan Erny adalah pengurus perempuan yang berdomisili di Jakarta dan tahu tempat-tempat belanja yang murah dan berkualitas, hasilnya kami berdua belanja seharian. Mulai dari pakaian anak, alat tulis, hingga makanan-makanan kecil. Sedangkan urusan sembako, giliran para lelaki tangguhnya berkonvoi ke pasar terdekat Lapak Pemulung.
Belanja selesai, dan kini saatnya membungkus belanjaan untuk dibagikan. Ini tugas teman-teman lain yang belum dapat job, tapi saya juga ikut bantu-bantu menyortir, terutama untuk anak-anak.

Beralih ke hari pelaksanaan….

Pada hari itu, kami merencanakan ba’da zuhur akan ada pembagian bingkisan (makanan ringan, alat tulis, dan baju muslim) untuk anak-anak dan sembako untuk ibu-ibu. Sebelum pembagian bingkisan, ada serangkaian acara yang kami lakukan di mushallah, yaitu pengesahan KOPAJA dan pembinaan Lapak Pemulung oleh ketua umum KOPAJA kepada Pak Herman, “kepala” pemulung di sana, dilanjutkan dengan materi motivasi Berani Bermimpi oleh Mas Adi Waluyo. Kemudian, kami shalat zuhur berjamaah dan makan siang berjamaah juga :D

Sayangnya, ada banyak kejadian-kejadian menyenangkan saat acara berlangsung yang saya lewati. Ya, tugas saya di hari pelaksanaan ada di depan (memberi sambutan dan meresmikan KOPAJA) lalu memberikan sertifikat kepada pembicara. Selebihnya, saya sibuk mondar-mandir ke pasar untuk membeli beberapa bingkisan yang kurang, karena anak-anak yang datang melebihi data yang ada dan melebihi bikisan yang sengaja kami lebihkan. Panik, itu pasti tapi hanya sejenak.

Acara yang paling saya tunggu adalah penulisan cita-cita dan penempelan bintang harapan di dinding impian (ya, meskipun saya gak mengikuti bagian ini dari awal karena sibuk di belakang). Senang sekali melihat bintang-bintang itu sudah tertempel dengan tulisan tangan dan cita-cita yang beragam. Ada yang ingin menjadi presiden, pemain bola, polisi, atlet badminton, guru, dokter kandungan, dan lain-lain. Yang paling saya ingat adalah sebuah tulisan dengan spidol hijau yang berbunyi, “Cita-cita saya menjadi porttekell” yang artinya adalah “Cita-cita saya menjadi dokter”. Owalah, subahanallah ya :D

Ada kejadian lucu juga loh. Ada satu anak bernama Arif yang senang sekali ditangkap main kucing-kucingan dengan teman-teman KOPAJA, kerena dia selalu berusaha kabur dari acara. Karena panitia sudah tahu karakter Arif, jadi sudah ada panita yang menjaga pintu mushallah untuk mengantisipasi kaburnya anak-anak dari acara. Nah, saat kami sedang asik makan siang bersama, Arif berlari ingin keluar. Saat saya tanya mau kemana, dia tidak menjawab. Tubuh Arif dihalangi oleh panitia yang menjaga pintu mushallah. Mungkin karena kesal Arif menjawab agak berteriak, “Mau beraaak!” Serentak seisi mushallah yang mendengar langsung tertawa, termasuk saya :D

Di luar kesenangan dan kelucuan berbagai tingkah laku adik-adik di sana ada yang membuat hati saya kurang lega, karena ada tiga orang adik yang tidak datang ke acara kami. Kalian tahu alasannya? Mereka pergi mengamen sejak pagi, dan satu di antaranya ada yang belum pulang sejak kemarin. Tapi di akhir acara, dua orang anak yang mengamen datang dengan tubuh kumal dan penuh keringat. Duh, tak tega. Tubuh mereka kecil-kecil, ringkih sekali. Di luar segala perasaan hari itu, semuanya merasakan kesenangan, baik itu panitia, adik-adik, dan ibu-ibu yang ada di sana.

Untuk program selanjutnya, insya Allah akan ada bimbingan setiap hari Ahad jam 9.00-12.00 WIB dengan pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan adik-adik yang ada di sini. Dan insya Allah akan ada pengajian sebulan sekali untuk ibu-ibu pemulung.

Dengan sedikit pendekatan dari teman-teman KOPAJA, semoga adik-adik dan bapak-ibu di Lapak Pemulung bisa lebih diarahkan kepada pendidikan yang islami. Semoga mereka tetap shalat lima waktu meskipun memulung, dan adik-adik yang mengamen bisa mengganti nyanyian mereka dari lagu cinta-cintaan yang belum mereka mengerti artinya menjadi shalawat-shalawat. Lebih-lebih, semoga melalui teman-teman KOPAJA, Allah memperkenankan adik-adik yang belum ataupun putus sekolah untuk dapat bersekolah.

Banyak sekali pengalaman berarti dalam perjalanan ini. Yang paling rawan adalah keistiqomahan niat dan hati. Tidak sedikit yang menyepelekan mimpi saya ini, bahkan beberapa orang yang saya kenal menolak dengan halus dengan berbagai argument politik. Di sinilah godaan tahap pertama digencarkan setan. Sempat juga saya pesimis dan ingin menghapus mimpi ini, tapi lagi-lagi keinginan yang kuat mampu mengalahkan godaan di tahap ini. Terlebih, ada niatan besar yang saya bawa dalam jalan ini (niatan itu belum saya beritahukan kepada teman-teman KOPAJA).

Godaan tahap kedua muncul dari intern KOPAJA. Ketika satu kepala berbeda pendapat dengan yang lainnya dan ketika ada kecemburuan penempatan job. Dua hal ini, meski tidak nampak secara kontras di antara kami, tapi saya berusaha membaca kondisi ini dari setiap kalimat yang disampaikan teman-teman KOPAJA. Ya, apalagi ada beban tambahan saya sebagai yang diamanahi sebagai pemimpin KOPAJA, jadi harus lebih peka terhadap keadaan. Biasanya, saya inisiatif dengan mengalihkan pembicaraan atau membiarkan apa yang diperdebatkan tidak usah dikerjakan saja sekalian, biar saya saja yang mengerjakan.

Terlepas dari semua godaan dan konflik “tersembunyi” yang malah menjadi bahan gerutuan beberapa teman, saya justru menyadari bahwa saya hanya orang yang bodoh dan kalah dalam beberapa hal. Mulai dari semangat yang kambang kempis (tapi sebisa mungkin saya sembunyikan), belum lagi capek yang dibuntuti rasa sewot dan kesal ketika ada teman KOPAJA yang menganggap remeh amanahnya. Astaghfirullah T_T Kalau saya sudah marah besar kepada orang tertentu, biasanya saya akan menyebut namanya dengan penekanan dan nada yang berbeda (maafkan saya ya, untuk orang yang merasa pernah saya perlakukan seperti ini) Hasilnya, saya masih perlu mengontrol emosi dan melatih ketenangan dalam memimpin dan membangun mimpi ini.

Terakhir, saya ucapkan terima kasih kepada Allah swt. yang memperkenankan kami ada di jalan ini dan mengajarkan kami arti keindahan dengan berbagi. Terima kasih kepada seluruh teman-teman yang telah mendukung KOPAJA dengan bentuk bantuan apapun itu. Karena apapun bentuk bantuan dan dukungan kalian, semua itu sangat berarti bagi kami. Terima kasih kepada teman-teman facebook yang sudah berpartisipasi, siapa pun kalian (yang SMS ke saya dan “kabur” saat ditanya nama). Jazakumullah khairan katsiran.

Semoga Allah memberkahi perjuangan ini. Semoga Allah meridhoi setiap ikhtiar, doa, dan tawakal. Semoga Allah mengistiqomahkan dalam kebaikan. Amin. Satu lagi untuk teman-teman KOPAJA, sebelum melangkah lebih jauh mari luruskan lagi niat dan hati kita fillah. :)

KOPAJA, merangkai cita dengan cinta.
(Tararengkyu buat Om Bagas yang kalimatnya kami jadikan jargon ^^)



 Komandan KOPAJA


Lisfatul Fatinah Munir