Gerakan 1000 Buku Bacaan untuk Anak Jalanan

Buku adalah gerbang ilmu pengetahuan, begitulah sebuah skema mengemukakan betapa pentingnya keberadaan buku.

Kegiatan Bakti Sosial KOPAJA

Bakti sosial sekaligus sosialisasi perdana kegiatan KOPAJA.

Belajar Gerakan Sholat

Menanamkan kepada anak-anak pentingnya menegakkan sholat sejak dini.

Hasil Karya Anak-anak

Membebaskan ekspresi dan kreasi anak-anak, dan mengarahkannya kepada hal yang positif.

Pesantren Kilat Anak Jalan

Bersama dalam canda dan tawa, mengisi ruhiyah anak-anak dalam kehangatan Ramadhan.

Selasa, 30 Oktober 2012

Sejarah KOPAJA Bag.3


Berwisata Hati


Bismillahirrahmanirrahim

Ini tentang perjalanan di tengah terik matahari dan titik hujan yang menyisakan api kepedulian.

Hari ini, saya memiliki agenda pertemuan dengan KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan). Pertemuan di Blok M kali ini merupakan pertemuan ketiga saya dengan teman-teman seperjuangan yang memiliki secuil kepedulian terhadap saudara-saudara kami yang ada di jalanan. Di Masjid Nurul Iman Blok M Square, kami membahas sejumlah persiapan untuk bakti sosial yang sudah saya siapkan dari rumah.

Singkat cerita, setelah membahas hampir seluruh persiapan bakti sosial dan melaksanakan shalat zuhur, kami melanjutkan ke agenda kedua, yaitu menyurvei tempat anak jalanan yang hendak menjadi sasaran kami. Cukup pening awalnya. Hehe, karena saya harus berkali-kali menelepon seorang kawan untuk menanyakan lokasi anak jalanan dekat Blok M. Setelah cukup lama berputar Blok M dan memutar kepala agar pertemuan kami tidak sia-sia, kami memutuskan untuk langsung ke wilayah anak jalanan tersebut tanpa menunggui mereka di tempat tongkrongan mereka.

Perjalanan kami lanjutkan ke tempat sasaran. Hehe, bermodal nekad (karena tak ada satu pun dari enam orang yang hadir yang tahu di mana letak kampung pemulung yang hendak kami datangi). Saya dan yang lainnya menuju kawasan Gandaria City menggunakan metro mini. Kira-kira setengah jam perjalanan kami baru sampai di samping Gandaria City.

Seperti yang tadi sudah saya bilang, tak ada satupun di antara kami yang tahu di mana tepatnya kampung kumuh yang dimaksud seorang teman kami yang bernama Aris. Um, meski saat itu matahari benar-benar sedang membelalak ganas, kami tetap berusaha mencari tahu di mana letak kampung pemulung ini. Alhasil, setelah bertanya-tanya kepada beberapa orang tibalah kami di suatu daerah yang benar-benar membuat saya tidak mampu berkomentar apa-apa.

***

Sebuah pusat perbelanjaan yang cukup megah menjadi patokan kami untuk menemukan kampung pemulung tersebut. Kami berjalan bersama asap kendaraan yang menjejali Jakarta hingga ke sebuah apartemen mewah yang bersebelahan dengan pusat perbelanjaan yang tak kalah mewahnya. Sebuah jalan panjang terbentang di depan apartemen itu. Ini bukan jalan menuju pintu masuk apartemen! Ada pagar tinggi yang membatasi jalan masuk apartemen yang biasa dilewati mobil-mobil bergengsi dengan jalan yang menjadi tapakan kaki-kaki tak beralas.

Kami berjalan hingga sebuah percabangan jalan. Ini masih di areal aparteman. Sedikit terkejut. Pemandangan kontras hinggap di pengelihatan kami. Percabangan yang kami pilih untuk meneruskan perjalanan kami adalah jalan setapak yang becek dan penuh tumpukan sampah di kanan kiri. Sebuah pemandangan yang “bikin geli” ketika saya mendongakkan kepala ke arah kanan dan melihat gedung apartemen yang bersih gagah terpancang.

Di jalan setapak ini, kami masih meraba perjalanan kami. Kami masih bertanya-tanya ke beberapa orang letak kampung pemulung yang dimaksud oleh Aris. Kurang dari sepuluh menit memasuki perumahan kumuh yang terselip di antara apartemen itu, akhirnya kami menemukan apa yang kam cari; kampung pemulung. Sebuah tanah lapang yang lebih mirip dengan tempat pembuangan sampah, kira-kira begitulah gambarannya. Di sana memang banyak sampah-sampah yang masih berguna, seperti kadus, plastik, besi, dan berkarung-karung hasil pulungan lainnya.

Satu lagi. Saat itu saya disajikan satu pemandangan yang sungguh mengcampuradukkan rasa di hati. Ada sedih, geram, dan benci. Di hadapan saya terpotret keadaan yang sangat tidak wajar. Sebuah aparteman megah bersanding dengan rumah-rumah yang lebih mirip penampungan sampah.

“Kok mereka bisa ya tidur nyenyak di apartemen itu? Bukannya dengan sekali melihat dari jendela apartemennya mereka bisa langsung tahu kondisi ‘tetangga’ mereka?” gumamku dalam hati.

Tapi entah apa yang sudah terjadi. Kondisi seperti ini justru seperti menjadi hal yang biasa saja bagi para penghuni kampung pemulung, pun itu bagi warga sekitar yang dari nampak rumahnya jelas bisa dikatakan mapan.

Entahlah. Seperti ada yang salah dalam pikiran orang-orang yang ada di sekitar saya saat itu. Mengapa mereka tega? Mengapa mereka bisa membiarkan keadaan dekat mereka seperti ini? dan sejumlah pertanyaan tak menerima fenomena di depan mata muncul bertubi-tubi dalam kepala. Entahlah. Seperti ada yang salah dalam hati orang-orang yang ada di sekitar saya saat itu, apalagi dengan hati orang-orang kaya yang ada di apartemen yang baru saja saya lewati. Ada yang tidak berfungsi!; Mata dan hati mereka, itu kata hati saya.

Ah, saya lebih sedih lagi ketika dengan cepat pikiran saya yang lain mengatakan, “Mungkin Tuhan telah mengunci hati mereka dan membutakan mata mereka, tapi mereka tidak tahu.” Ah, na’uudzubillah! Dan dikuncinya hati adalah satu Kehendak Allah yang paling saya takutkan. Betapa nikmat-nikmat seakan tercabut ketika saya mengandaikan diri sebagai seorang yang dikunci hatinya.

Oh iya, satu hal yang saya percayai adalah kepekaan mata justru diukur ketika mata kita terpejam. Dengan kata lain, pengelihatan tak sekadar sebatas pada mata, tapi juga sampai ke satu titik yang tersembunyi bernama hati. Dalam perjalanan seharian ini, saya mendapatkan banyak pengalaman yang sangat berharga. Dan, saya harus menyadari bahwa sepertinya saya pun kurang peka. Karena ternyata, sebelumnya saya selalu melewati wilayah kampung pemulung yang terhimpit gedung-gedung megah setiap hendak ke UIN. Ini baru saya sadari saat perjalanan pulang. Oleh karena itu, saya menganggap perjalanan ini sebagai berwisata hati.

Lantas, apa yang perlu dikoreksi? Hati. Kata seorang ustzad yang saya kenal, adalah tanda matinya hati ketika seseorang tidak bergerak hatinya ketika melihat satu hal yang menyedihkan. Semoga kita termasuk dalam bagian orang-orang yang masih dihidupkan hatinya. Amin.(*)

Ini adalah kisah pencarian tempat binaan KOPAJA. Tempat ini sampai sekarang menjadi ladang amal kakak-kakak KOPAJA untuk berbagi cinta menuju cita-cita adik-adik Pemulung.



*Penulis adalah penggagas KOPAJA

Sejarah KOPAJA Bag. 2


Dari Balik Deretan Bus Terminal Pulogadung


Bismillahirrahmanirrahim

Teman-teman masih ingat dengan KPAJ Jakarta (Komunitas Peduli Anak Jalanan Jakarta)? Sekarang, singkatannya sudah direvolusi menjadi KoPAJA (supaya mudah disebut dan lebih akrab dengan nama Jakarta identik dengan angkutan umum “kopaja”). Dalam catatan kali ini, saya ingin berbagi sedikit cerita tentang proses usaha saya untuk mengembangkan KoPAJA.

Lebih dari seminggu yang lalu, saya menghubungi Kak Hulaifah, istri Kak Zaky (Pembina Punk Muslim), yang sudah saya anggap kakak sendiri. Melalui pesan singkat saya menanyakan wilayah yang banyak anak jalanannya, namun belum mendapatkan pembinaan. Setelah banyak berbincang, Kak Hulai menyarankan saya untuk ikut bersamanya membina beberapa anak jalanan di Terminal Pulogadung yang sangat kekuranganvolunteer (relawan) perempuan.

Setelah mendapatkan bantuan jaringan dari Kak Hulai, saya niatkan untuk bisa berkunjung ke Pulogadung kamis lalu (27/10). Tapi, karena harus mempersiapkan kepergian saya ke luar kota, saya baru bisa menyempatkan diri ke sana kemarin, kamis 3 November 2011.

Setelah shalat ashar, saya dan seorang teman saya berangkat dari kampus menuju Terminal Pulogadung. Kami berdua turun di pasar sebelum terminal. Ternyata perjalanan masih cukup jauh untuk menuju terminal, lebih dari 500 meter. Karena belum mengenal lingkungan sana, saya menunggu Kak Hulai yang masih dalam perjalan di depan mini market. Kurang lebih setelah setengah jam kami menunggu, Kak Hulai datang dan langsung mengajak kami berdua menuju rumah salah seorang anak jalanan.

***

Kami menelusuri tepian pasar yang ada di dekat terminal. Lalu memasuki gang kecil yang berkelok. Di ujung gang, saat jalanan mulai melebar, Kak Hulai memperkenalkan kami dengan seseorang yang kami panggil Mbak Sumi. Kemudian, Mbak Sumi mengajak kami bertiga melewati gang kecil yang hanya bisa dilewati satu orang. Perlahan-lahan kami kehilangan matahari senja, kami menelusuri gang yang lebih sempit lagi, lebih sesak lagi. Hanya bau kotoran tikus yang tertangkap oleh hidung saya.

Di unjung gang, kami masuk ke sebuah rumah yang sangat sederhana. Di dalam ruangan yang hanya bisa diisi oleh kurang lebih enam orang dengan duduk melingkar, ada satu  lemari pakaian tanpa pintu, satu rak piring, dan dua dipan (satu untuk duduk atau tidur dan yang lain untuk meletakan perabotan rumah tangga).

Di dalam sana Kak Hulai memperkenalkan kami dengan penghuni rumah yang bernama Bu Mari, beliau sedang sakit saat kami datang. Sambil menunggu adzan maghrib, kami berbincang dan mengatakan maksud kedatangan kami ke sana, juga membicarakan apa yang akan kami lakukan selepas maghrib nanti.

Singkat cerita, ba’da maghrib saya dan yang lainnya berangkat ke rumah lain yang lebih luas. Di sana saya bertemu dengan beberapa teman anak jalanan lain yang ingin belajar mengaji. Jumlah mereka ada empat orang. Pertama, namanya Nada, seorang gadis yang masih duduk di bangku kelas tiga SMP, di suka sekali bercanda dan tertawa. Kedua, namanya Mbak Nida, wanita kurus dengan kulit gelap, yang ini sedikit malu-malu. Ketiga, Mbak Sumi, wanita kurus berkulit bersih yang sehari-harinya bekerja mengasuh anak tetangganya sendiri. Terakhir adalah pemilik rumah, namanya Mbak Nia, wanita lulusan SMA tahun 2007 yang pernah bekerja menjadi satpam.

***

Ini adalah pertemuan kedua mereka dengan Kak Hulai dalam kelas. Saya dan teman saya membantu Kak Hulai untuk mengajarkan baca tulis al-quran. Pelajaran hari ini adalah makhorijul huruf. Sebelum memulai pelajaran, Kak Hulai bertanya, “Nada dan mbak-mbak di sini tahu huruf hijaiyah kan?” Dengan spontan Mbak Sumi menjawab, “Saya mah gak tau tulisan Arab, Mbah Ulai. Ngaji aja seumur-umur kagak pernah.”

Saya benar-benar terkejut saat mendengar jawaban Mbak Sumi. Di usia yang kira-kira sebaya dengan Kak Hulai, ia belum mengenal huruf hijaiyah. Saat mendengar jawaban ini saya baru sadar kenapa saat maghrib tadi saya mengajak Mbak Sumi untuk shalat, ia hanya menjawab dengan senyuman sambil menggaruk-garuk kepala.

Saya tidak bisa membayangkan kepolosan Mbak Sumi yang mengakui bahwa dia belum pernah mengenal huruf hijaiyah sebelumnya. Bagaimana hidupnya selama ini? Tidakkah kedua orang tuanya mengajarkannya agama? Apakah kedua orang tua nya juga tidak mengenal al-quran? Apakah berarti kedua orang tuanya juga tidak shalat? Aiih, serentetan pertanyaan tiba-tiba menjejal di kepala saya.

Meskipun banyak celetukan yang membuat miris, proses belajar tetap belajar dengan lancar. Bahkan, penuh dengan warna. Ada Nada dengan gaya tertawanya yang membahana dan sering membuat saya terkejut. Mbak Sumi dengan kata khasnya “yassalam” setiap salah mengucapkan huruf atau ketika belum bisa juga mengucapkan ‘ain dan kho. Mbak Nida dan Mbak Nia yang cuma bisa senyum-senyum karena tidak bisa mengucapkan beberapa huruf. Seru!

Selesai mengajarkan makhorijul huruf dan member PR kepada teman-teman jalanan, kami memceritakan sebuah kisah tentang keislaman Ummu Sulaim. Di tengah keasikkan mendengarkan cerita, tiba-tiba hujan turun. Cukup deras. Mbak Sumi yang tidak menyadari hujan turun langsung terkejut saat tubuhnya terasa dingin dan dia langsung meminta izin untuk pulang lebih dulu karena takut atap rumahnya bocor.

Indah. Dari balik deretan bus terminal Pulogadung inilah aku menemukan momen indah di awal bulan ini. Mengenal Nada yang selalu tersenyum, Mbak Sumi yang blak-blakkan tapi malu-malu. Mbak Nida dan Mbak Nia yang lebih banyak diam tapi lucu. Beberapa jam sebelum bertemu mereka, saya masih tidak bisa menerka bahwa teman-teman yang akan saya temui adalah seperti mereka, teman-teman yang memiliki semangat luar biasa meskipun di lain sisi banyak yang melihat kekurang mereka.

Ah, banyak cerita bersama mereka yang tidak dapat saya tuangkan dalam kata-kata melalui catatan ini. Entahlah, terlalu indah bersama mereka. Dalam “ruang kelas dadakan” ini, saya menemukan sejumput kasih sayang yang berbeda kepada mereka yang belum saya kenal seutuhnya. Kasih sayang ini datang tiba-tiba. Kalian tahu?  Seperti ada embun yang metes di pipiku. Tes… Dingin seketika, tapi tidak menggigit. Dinginnya menyejukkan. Membuat mata pagi mebelalak. Segar. Lalu perahan embun itu menguap. Tidak menimbulkan panas. Tapi hangat yang menyuburkan semangat.

Ini baru dunia yang luar biasa!

Begitulah aku membatin sepanjang pertemuan dengan mereka. Bukan seberapa besar materil atau moril dalam memberi, tapi sebuah keistiqomahan yang lebih penting dari sederat angka nol dalam rupiah.

Oh iya. Saudara-saudariku, perlu kita sadari bersama bahwa sejatinya mereka tidak membutuhkan belas kasihan dari orang yang merasa lebih dari mereka, tapi kasih sayang dari kita dan rangkulan yang setara dan sederajatlah yang mereka butuhkan.

*Penulis adalah penggagas KOPAJA

Sejarah KOPAJA Bag. 1

Setitik Mimpi untuk "Matahari Jakarta"
KPAJ Jakarta (Komunitas Peduli Anak Jalanan Jakarta) 


Bismillahirrahmanirrahim

Berawal dari keprihatinan terhadap adik-adik yang berlalu lalang membawa sejumlah "alat" jalanan, saya memiliki satu target dalam daftar perencanaan hidup yang saya miliki, yakni membuat sebuah rumah singgah atau yayasan yang menampung anak jalanan dan membantu mereka terutama dalam bidang pendidikan umum maupun agama. Hampir setiap hari, setiap saya bertemu dengan adik-adik kecil itu di pinggir jalan ataupun di dalam bus kota, mimpi itu kembali memanggil dari alam bawah sadar saya. Panggilan mimpi itulah yang membuat saya selalu mengulang doa kepada Allah agar suatu saat mimpi kecil ini bisa menjadi kenyataan.

Keingin saya semakin kuat ketika pada beberapa kesempatan di sela-sela kesibukan kuliah sayamengobrol dengan Ani, Ian, dan Akbar, tiga bocah penjaga sepatu di masjid kampus. Saya semakin prihatin ketika tahu bahwa di antara mereka ada yang putus sekolah. Alasannya "lebih enak nyari duit". Miris bukan? Terlebih ketika sambil berbincang saya mengajak mereka "main tebak-tebakan" tentang ilmu dasar agama, seperti rukun Islam, rukun iman, jumlah rakaat salat, nama-nama nabi, dan lain-lain, tidak banyak yang mereka tahu. Saya semakin sedih saat tiba waktunya salat saya mengajak mereka untuk salat bersama, tapi mereka bilang, "Nanti aja, Kak, jaga sepatu aja ya." Setelah saya selesai salat dan menyuruh mereka salat untuk kedua kalinya, mereka hanya senyum sambil mengisyaratkan ketidakinginan mereka untuk salat. Um, jika mereka yang hidup dilingkungan berpendidikan dan dekat dengan unsur keagamaan saja seperti itu, bagaimana dengan mereka yang ada di jalanan? Apakah mereka masih mengenal apa itu Allah dan al-quran? Apakah mereka diperkenalkan dengan Islam? Ah, pikiran saya semakin terpecah dan resah.

Keresahan ini masih berlanjut hingga sekarang, sampai akhirnya entah bagaimana (saya lupa), melalui jejaring sosial ini Allah kembali mengingatkan saya akan mimpi kecil yang ingin segera dibebaskan ke dunia nyata. Dengan sekali klik, saya bergabung dalam suatu komunitas bernama KPAJ (Komunitas Peduli Anak Jalanan). Sayangnya, komunitas ini berada di Makassar dan memang lahir di Makassar. Karena saking inginnya berjuang di jalan ini, saya bertanya tentang apa yang dapat saya kontribusikan meski saya ada di Jakarta. Seorang kawan KPAJ Makassar mengabarkan bahwa di pulau Jawa sudah ada KPAJ Bandung yang baru lahir bulan ini. Kalau dipikir-pikir, jika memang bisa membentuk untuk Jakarta, why not?

Setelah bertanya-tanya kepada "aktivis jalanan" yang sudah berpengalaman di KPAJ, dengan bermodalkan nekad, 22 Oktober 2011 saya meng-update status yang berisi ajakan kepada teman-teman yang berdomosili di Jakarta dan memiliki kepudian tinggi kepada anak jalanan untuk membentuk KPAJ Jakarta.

*Penulis adalah penggagas KOPAJA

Karena Ratna Kuat! (Cerita Inspirasi Gerakan 1000 Buku untuk Anjal)



Bismillahirrahmanirrahim

Sebuah buku mungkin tidak cukup berarti harganya bagi yang memiliki uang berlebih. Sebuah buku mungkin sangat berarti harganya bagi yang tak mampu membeli.

Ini tentang keistemewaan, membedakan yang istimewa dan tidak istimewa. Yang membedakan seberapa istimewanya sebuah benda yang ada di tangan kita adalah usaha yang kita lakukan untuk meraihnya.

Siang itu saya makan di salah satu rumah makan dekat Rumah Pustaka FLP Ciputat bersama dengan dua sahabat saya. Lalu, tiba-tiba seorang bocah perempuan berjilbab masuk ke dalam rumah makan. Dia masuk tidak untuk makan. Dia masuk untuk meletakkan amplop-amplop kecil di atas meja tamu dan menanti tangan-tangan berbaik hati memasukkan uang ke dalam amlpopnya.

Saat mendekati meja kami, bocah perempuan itu menunjuk kotak makan yang dibawa sahabat saya. “Apa itu, Kak?” tanyanya polos, matanya tertuju pada tumpukan cokelat buatan sahabat saya.

“Ini cokelat. Kamu mau?” teman saya mengulurkan dua buah cokelat ke tangannya. Sambil malu-malu, dia mengambil cokelat itu dan pergi, meletakkan amplop di meja lain. Saat mendekati meja kami lagi, bocah ini tersenyum, cantik sekali.

“Ini bawa lagi,” kata saya dan sahabat saya serentak. Tangannya kini penuh dengan cokelat.

Begitulah awal perjumpaan saya setengah tahun lalu dengan seorang bocah perempuan bermata embun. Ratna namanya. Usianya saat itu tidak kurang dari tujuh tahun. Meski mengamen dari satu rumah makan ke rumah makan lainnya, Ratna tetap terlihat cantik  di balik jilbab dan gamisnya yang lusuh.

***


Kemarin, 6 Oktober 2012 saya bertemu lagi dengan bocah bermata embun ini, di sebuah rumah makan tepat di samping UIN Ciputat. Kali ini masih sama, dia masuk tidak untuk makan, tapi untuk mencari uang. Dia masuk dan langusng meletakkan amplop di setiap meja makan. Dengan ragu-ragu saya menyebut namanya saat dia mendekati meja saya. Tapi dia tersenyum, lalu tertawa kecil sambil mengiyakan panggilan saya.

Saat kami bertanya balik siapa kami, ternyata Ratna sudah lupa dengan kami. Well, akhirnya, untuk kedua kalinya kami berkenalan lagi. Lalu, tiba-tiba Ratna berbisik di telinga saya, “Kakak, Kakak, tadi aku lihat buku bagus di depan sana. Aku mau beli buku itu tapi gak punya uang. Kakak mau gak beliin buat aku?”

“Buku apa itu?” saya ikut berbisik di telinganya.

Ternyata, Ratna ingin membeli buku cerita yang ada di bazaar buku  Mizan, dalam kampus UIN Ciputat. Selesai makan kami bertiga berjalan ke Rumah Pustaka untuk mengambil uang.

Saat tiba di dalam Rumah Pustaka, Ratna berteriak kegirangan. “Waaah, banyak buku ya, Kak.”

“Iya, di sini bukunya banyak. Kalau Ratna mau baca buku, ke sini aja ya,” kata teman saya.

Kurang lebih limabelas menit kami di Rumah Pustaka. Sejak masuk Rumah Pustaka, Ratna tak beranjak sedikitpun dari rak-rak buku. Dia terlihat sangat asik memilih-milih buku yang berjejer di rak. Setiap judul buku diperhatikannya, diambil, dibuka-buka, diberitahu kepada kami jika ada yang menarik, bertanya kepada kami jika ada yang membingungkan, dan meletakkannya kembali ketika melihat judul buku yang lebih menarik perhatian.

Deretan buku yang hampir setiap pekan saya lihat, memang hanya deretan buku biasa. Tapi hari itu, deretan buku-buku itu menjadi luar biasa di mata embun Ratna. Tangan kecil Ratna asik menjalari buku-buku berdebu yang berderet di sudut yang hampir tak pernah disentuh.

Setelah puas melihat-lihat buku Rumah Pustaka, kami keluar menuju bazaar buku Mizan. Ketika keluar dari Rumah Pustaka, Ratna melihat pintu masuk rumah makan yang ada di dekat Rumah Pustaka penuh dengan sandal. Itu artinya, di dalam sana banyak tamu yang hendak makan. Sambil malu-malu, Ratna yang sedari tadi menggandeng tangan saya berhenti berjalan dan berkata, “Aku mau ke sana dulu, Kak, lagi rame.”
Saya dan teman saya hanya tersenyum, mengangguk. Salut.

Bagi anak lain, rumah makan penuh tidak akan berarti apa-apa. Tapi bagi Ratna, dan anak-anak yang dibesarkan bersama kerasnya kehidupan, rumah makan yang penuh adalah peluang untuk mencari selembaran uang. Miris. Mereka tumbuh cerdas dan dewasa jauh dari usianya.

Setelah Ratna mengamen, kami bertiga langsung melaju ke bazaar buku. Sambil melompat kegirangan, Ratna menghampiri tumpukan buku anak-anak. Meraba-raba sampul buku. Membolak balik isinya. Mengomentari gambar-gambar yang ada di dalamnya.

Beberapa menit dia asik memilih, akhirnya satu buku diserahkannya kepada saya.

“Ini aja? Cuma satu?” teman saya bertanya.

“Memang boleh beli dua?” Ratna bertanya dengan polosnya.

“Boleh,” saya dan teman saya menyahut bersamaan.

“Asiiiiiiiik,” Ratna langsung membelakangi kami, berlari kegirangan.

Dua buku sudah di tangan Ratna, komik Upin-Ipin dan 101 Info tentang Sedekah for Kids. Ratna terus tersenyum saat kami antre di kasir.

Sebelum berpisah, Ratna ragu-ragu berkata, “Kakak, aku harus cari uang lagi.”

“Gak apa-apa. Tapi hati-hati ya.”

“Kakak, aku mau beli buku sekolah harganya 90.000, kalau uangku baru 58.000 berarti kurang 32.000 lagi ya?” kata Ratna dengan polosnya.

Entah kenapa, setelah mendengar pertanyaan itu saya merasakan ada hal yang berbeda masuk ke dalam diri saya. Sambil mengangguk mantap, saya dan teman saya kompak berteriak, “Semangaaaaat! Semangat beli buku sekolah!”

“Semangaaaat! Ratna bisa! Ratna kuat! Yeeee.” Ratna ikut berteriak sambil mengangkat tangannya.

Di sinilah kami berpisah. Sedih. Tapi, ya, bagaimana lagi. Ratna yang memiliki ibu seorang pembantu dan ayah seorang kuli bangunan masih harus mencari uang untuk membeli buku. Pelukan hangat mengakhiri pertemuan kedua kami sekaligus menjadi doa, semoga kami bisa bertemu lagi :’)

***

Ada banyak pelajaran yang saya dapatkan dari Ratna. Ada banyak energi positif yang saya terima dari bocah bermata embun ini. Ada semangat yang tak berkesudahan dan kekuatan optimisme yang diiringi keriangan yang dimiliki Ratna, dan semua itu belum saya miliki.

Segenggam iri terkepal dalam malu. Lalu saya  bertanya pada diri sendiri, apakah kamu cukup bangga dengan apa yang sudah kamu usahakan hingga saat ini? Tidak. Apa yang sudah saya usahakan hingga saat ini tidaklah berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kemauan dan semangat yang Ratna punya.

Haru. Malu. Itulah yang saya rasakan sampai hari ini, setiap kali mengingat wajah surganya.

“Ratna kok ngamen? Memangnya gak dicariin sama ibu?” saya bertanya di sela-sela pertemuan kami.

“Nggak dong, kan Ratna udah gede. Ratna bisa kemana-mana sendirian, karena Ratna kuat! Yeeeee!” Ratna menjawab dengan semangat. Berteriak. Melompat.

Karena Ratna kuat. Mungkin saja Ratna tidak mengerti apa itu artinya kuat. Mungkin juga Ratna tidak tahu seberapa besar kekuatan yang harus kita miliki untuk dapat bertahan hidup di tengah derasnya masalah. Tapi, Ratna telah mengajarkan kepada saya untuk menjadi kuat dan hebat bukan berarti kita harus paham teori kuat dan hebat dalam hidup itu seperti apa.

Dari senyuman dan tawa Ratna, saya belajar arti keriangan. Dari keriangannya saya belajar untuk selalu bahagia, dalam keadaan ada atau tiada. Dari keriangannya saya belajar berhusnuzan pada Allah, bahwa Allah Mahabaik. Bahwa Dia senantiasa mengiringi kesulitan dengan kemudahan.

Dari mata embun Ratna, saya belajar arti keikhlasan, kesabaran. Bahwa keikhlasan, dan kesabaran adalah ketika kita menatap ke depan dengan mata berbinar dan berkata, “Allah Maha Menepati janji-Nya. Allah menjanjikan keberhasilan bagi orang-orang yang berusaha.”

Dari sentuhan tangan mungil Ratna, saya belajar arti kerja keras. Optimis, husnuzan, dan ikhlas tidaklah cukup untuk menjadikan kita sebagai orang yang kuat. Kerja keras adalah optimisme dan husnuzan pada Allah dalam bentuk yang berbeda. Bahwa dengan bekerja keras, kita yakin bahwa Allah akan menghitung setiap peluh yang jatuh dan menggantinya dengan yang lebih indah.

Dari Ratna saya tahu arti istimewa. Yang istimewa baginya adalah buku-buku yang disukainya tapi tak mampu dibelinya. Yang istimewa adalah yang kecil, yang didapatkan dengan segenap kemauan  besar dan kerja keras. Yang istimewa adalah yang didapatkan dengan usaha terbaik kita :)

Semangat mencari 32.000 lagi, Ratna! Terima kasih atas pelajaran yang berarti dan tak terganti. Semoga kamu tumbuh menjadi gadis yang shalehah dan dirindukan surga. Semoga semakin kuat! :’)

*Penulis adalah penggagas KOPAJA

Senin, 22 Oktober 2012

KOPAJA Go Public (2); Bersama Majalah Hidayah

Alhamdulillahirabbil 'aalamin.

KOPAJA kembali terekspos media. Salah seorang wartawan dari Majalah Hidayah menghubungi Ibu Ketua, Lisfatul Fatinah untuk meliput kegiatan KOPAJA dan mewawancarai seluk beluk KOPAJA.

Profile KOPAJA dapat dibaca oleh teman-teman di Majalah Hidayah edisi Ramadhan 1433 H/Agustus 2012 dalam rubrik Syi'ar, halam 114-117.

Ayo dibeli atau dicari majalahnya dan baca tentang KOPAJA di sana ^_^